Budaya Event Bukan Konser Musik

0
1020
Kresikars 2000, acara yang dikelola pelajar di Stadion Kuningan.

Musik di Jakarta memperlihatkan fenomena yang lebih menonjol secara budaya adalah event ketimbang konser. Acara tidak selalu berkaitan dengan musik, dari simposium, bedah buku sampai reuni atau kelulusan SMA dan universitas, juga perayaan kenegaraan, tetapi biasanya melibatkan pertunjukan musik langsung.

Jenis pertunjukan musik yang lebih formal yang umumnya merujuk pada acara terstruktur apa pun yang melibatkan penonton dan beberapa jenis pertunjukan  atau disebut event merupakan kategori penting dalam kehidupan perkotaan Indonesia seperti Jakarta.

Istilah tersebut adalah fenomena yang lebih menonjol secara budaya ketimbang konser. Acara tidak selalu berkaitan dengan musik; acara dapat berupa simposium, misalnya, atau presentasi, tetapi acara biasanya melibatkan semacam pertunjukan musik langsung. Acara bisa diadakan untuk menggalang dana bagi acara amal (malam peduli), untuk menghormati kelulusan universitas atau sekolah menengah atas, merayakan hari libur nasional, mengiklankan produk baru, meluncurkan situs baru, atau untuk berbagai alasan lainnya.

Baca Juga:

  1. Film Pertama Masuk Jakarta
  2. Munculnya Bioskop Pertama di Jakarta
  3. Bacaan Porno 1950 sampai 1970-an

Semua acara memiliki satu atau beberapa sponsor dan biasanya dikelola oleh sebuah panitia. Pengelola acara yang bisa disebut event organizer profesional yang dihormati di Jakarta; mereka sering dipekerjakan oleh panitia untuk mendapatkan sponsor, menyewa keamanan dan teknisi suara, dan membantu berbagai urusan lainnya.

Peran yang sangat diperlukan dalam acara, terlepas dari jenis hiburannya, adalah pembawa acara. Pembawa acara biasanya dibayar lebih mahal ketimbang para musisi, dan peran mereka dalam menjaga kerumunan penonton agar tetap nyaman merupakan hal penting bagi keberhasilan acara. Menurut seorang pembawa acara dangdut semipensiunan yang tinggal di sebuah desa di Jawa Tengah, seorang pembawa acara yang baik harus bisa “melihat situasi” dan memahami keinginan penonton tanpa membiarkan hal lainnya berada di luar kendali.

Ia memberi tahu saya bahwa lagu dangdut yang lebih cepat (dangdut hot) harus dimainkan di awal malam, sedangkan lagu-lagu dangdut balada (dangdut slow) harus dimainkan di penghujung acara, untuk menenangkan kerumunan massa. Pembawa acara yang sensitif mengetahui saat yang tepat kapan harus memerintahkan band mengganti dari satu gaya ke gaya lain untuk menghindari kerusuhan dan ketidakpuasan.

Artikel dikutip dari buku Jermy Wallach, Musik Indonesia 1997-2001, hlm. 180-181.

Kesataraan yang kuat ada di antara berbagai macam acara. Pertunjukan dangdut selalu memiliki pembawa acara, begitu juga dengan kebanyakan acara konser musik underground. Seringkali pembawa acara di acara yang lebih besar memiliki kepribadian untuk menghibur—seorang aktor, model, atau pelawak—sementara acara dalam skala yang lebih kecil peran pembawa acara dapat digantikan oleh anggota panitia yang karismatik.

Pembawa acara pertunjukan dangdut selalu pria, dan ia biasanya membawakan beberapa lagu sepanjang malam selain melakukan tugas pentingnya untuk menyambut tamu, memperkenalkan penampil, dan mengucapkan terima kasih kepada sponsor. Acara yang mencakup jenis musik lainnya (misalnya pop, rock, dan underground), pembawa acara wanita sama lazimnya dengan pembawa acara pria, dan kedua pembawa acara tersebut biasanya bekerja berpasangan atau berkelompok.

Para pembawa acara ini juga menyapa kerumunan dan memperkenalkan musisi, tetapi jarang menyanyi dengan mereka. Tugas utama pembawa acara di acara musik pop dan rock adalah untuk mempromosikan produk sponsor yang bekerjasama melalui pemberian hadiah (door prize), kontes yang diikuti penonton, dan penyebutan produk komersial yang dimasukkan ke dalam candaan biasa mereka.


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku Jermy Wallach, Musik Indonesia 1997-2001, hlm. 180-181. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

 

LEAVE A REPLY