Ketika Ejekan SARA Belum Masalah di Jakarta

0
1944

Selain sebagai anak bangsa Indonesia, saya kira saya juga ingin memperkenalkan dan menyebut diri saya sebagai anak Jakarta karena sejak lahir saya tinggal dan besar di Jakarta. Saya lahir dan tinggal hingga dewasa di Menteng, tepatnya di Jalan Guntur.

Daerah Guntur merupakan bagian Menteng yang paling selatan dan berbatasan dengan kampung Pedurenan, Menteng Atas, Menteng Dalam, dan Menteng Wadas. Selain itu daerah Guntur merupakan bagian Menteng yang nama-nama jalannya menggunakan nama gunung, seperti Jalan Guntur, Malabar, Merapi, Muria, Lawu, Papandayan, Kencana, Kawi, Kelud, Bromo, Wilis, Halimun, Salak, Sindoro, Sumbing, Ungaran, Merbabu, dan Tangkuban Perahu. Oleh karena itulah perkumpulan remajanya bernama Remaja Gunung.

Memang, kalau mengetahui nama belakang saya Lubis, orang segera mengasosiasikan saya sebagai orang Tapanuli atau orang Medan. Orang sering langsung bertanya, apakah saya dari Medan atau Mandailing—mungkin maksudnya dari kampung. Ada juga yang langsung menyapa saya dalam bahasa Batak, mungkin supaya akrab. Agak jengah juga kadang-kadang saya menjawabnya. Biasanya saya menjawab yang sebenarnya saja, yaitu ayah saya dari Mandailing, tetapi saya lahir dan besar di Jakarta.

Baca Juga:

  1. Saksi Bisu Penyebaran Islam di Condet
  2. Kemelekeran
  3. Puasa Separo Ari

Dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin kompleks, saya cenderung lebih menganut paham ius naturalis, walaupun juga tidak menafikan ius sanguinis mengenai asal usul saya. Menurut saya paham ini lebih wajar, egaliter, dan demokratis. Karena lahir dan besar di kota seperti Jakarta, hal ini tentu banyak mempengaruhi kepribadian, mentalitas, dan pandangan hidup saya. Ada beberapa pengaruh kuat yang dapat saya rasakan dari tumbuh di kota besar seperti Jakarta.

Pengaruh pertama adalah karena tumbuh dalam suatu masyarakat majemuk maka saya menjadi terbiasa dengan lingkungan hidup sosial budaya yang beraneka ragam atau multikultural. Tetangga-tetangga saya di lingkungan sekitar Guntur, tempat saya tinggal sejak lahir, merupakan gado-gado dari berbagai macam suku, ras, dan agama. Saya pun menjadi terbiasa bergaul dan bermain dengan anak-anak tetangga dari suku Jawa, Sunda, Batak—suku yang terakhir tersebut relatif cukup banyak yang tinggal di Guntur pada 1950-an, mulai dari marga Nasution, Siregar, Pulungan, Lubis, Tobing, Batubara, Tampubolon, Gultom, Hutagalung, Hasibuan, Tambunan, Sitinjak, Simanjuntak, Simatupang, Siahaan, semua ada di situ.

Mungkin hanya daerah Gang Kernolong di Kwitang saja yang dapat menyaingi Guntur dalam hal banyaknya orang Batak-Betawi, Minang, Aceh, Ambon, Palembang, Bali, Manado, Gorontalo, serta Tionghoa, Belanda, dan Arab. Bahkan ada keluarga tetangga saya orang Armenia di awal 1950-an. Saya pun berteman baik dengan seorang anak tetangga orang Yugoslavia—waktu itu negara ini belum pecah.

Teman-teman saya ada yang pergi ke Masjid, ke gereja—setiap hari Minggu waktu itu ada kegiatan yang mereka sebut zondagsschool di gereja—atau sembahyang Toapekong, walaupun harus saya akui dengan jujur, teman-teman saya di tahun 50-an lebih sekuler, lebih senang bermain, ketimbang menghadap ke ”rumah Tuhan”. Di hari-hari raya keagamaan, kami terbiasa saling mengunjungi dan memberi selamat ke rumah masing-masing. Tidak ada masalah atau sungkan. Hal ini terjadi secara spontan saja dan menjadi tradisi karena memang kami sudah tinggal bersama di situ.

Oleh karena terbiasa dengan lingkungan sosial budaya yang mosaik seperti itui, bagi saya perbedaan suku, ras, dan agama merupakan hal biasa dan tidak pernah menjadi persoalan. Saya menjadi terbiasa menerima dan mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap berbagai perbedaan yang sering disebut sebagai masalah SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

Walaupun dulu juga sering saling mengejek mengenai perbedaan suku atau ras, seperti Jawa kowek, Padang bengkok, Batak tukang makan orang atau tukang makan anjing—saya sendiri sering terkaget-kaget waktu ada yang melontarkan ejekan ini kepada saya karena kedua orang tua saya ”cukup Islami” dan saya agak takut dengan anjing, Cina loleng atau Cina tukang makan babi.

Saya masih ingat ejekannya: ”Cina loleng, makan babi sekaleng, kalo enggak mau gue tempeleng.” Termasuk ejekan Arab jingjing, Belanda mabok atau Belanda edan. Saya jadi teringat dengan si Hans, anak Indo tetangga saya zaman itu, yang sering diejek “Hansye gek Hansye doll, dicekek keluar dodol”.

Tetapi sepengetahuan saya, ejekan seperti ini tidak disertai kebencian atau permusuhan, tak kurang sebagai olok-olokan stereotip atau main-mainan kekanak-kanakan saja. Tidak lebih dari itu. Boleh dibilang, masalah SARA di lingkungan saya tumbuh dulu, terutama perbedaan agama, belum merupakan masalah. Jadi, kalau sekarang ini banyak orang yang mengkhotbahkan perlunya mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan agama atau budaya di antara masyarakat Indonesia, saya sering mengatakan bahwa bagi saya hal itu sama sekali tidak perlu. Tidak ada gunanya bagi saya.

Sejak lama sikap toleransi itu tumbuh dan berkembang dalam diri saya, sudah sejak dari rumah atau kata orang Belanda, “van huis uit.” Jadi, tidak perlu diajarkan lagi. Saya pun sangat membenci sikap dan perilaku yang diskriminatif, eksklusif, dan intoleran berdasarkan SARA.


Dikutip dengan seizing penerbit Masup Jakarta dari buku Jakarta 1950-1970 karya Firman Lubis, halaman 19-20. Bukunya bisa didapatkan di di TokopediaBukaLapak, dan Shopee serta komunitasbambu.id atau telpon ke 081385430505.

Lebih jauh baca:

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY