Yang Ajaib dari Makam Keramat di Jakarta

0
886

Di Jakarta (Betawi), ada sejumlah makam yang dianggap keramat atau dikeramatkan. Makam keramat ini dianggap memiliki kelebihan berupa kesaktian sehingga banyak diziarahi orang. Para peziarah ini datang dengan berbagai tujuan, seperti minta diberi kemudahan dalam mendapat rezeki, diberi kemudahan dalam mendapat jodoh atau mendapat keturunan, bisa cepat menjadi kaya dan sebagainya.

Peziarah ini tidak hanya berasal dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga dari Jawa Barat, Jawa Tengah, bahkan juga dari Madura. Di antara makam-makam keramat itu yang terkenal adalah Makam Keramat Luar Batang. Makam ini terdapat di samping Masjid Jami’ Luar Batang. Sekarang karena perluasan masjid, menjadi di dalam masjid. Makam ini adalah Makam Habib Husin bin Abu Bakar Alaydrus yang meninggal tahun 1756 Masehi. Siapakah Habib Husin bin Abu Bakar Alaydrus ini?

Menurut kisahnya, Habib Husin ini berasal dari Hadralmaut, Semenanjung Arab. Sebelum datang ke Indonesia, beliau dulu bermukim di Gujarat, India. Beliau bermukim di kawasan Luar Batang yang merupakan daerah pemukiman pertama di Jakarta, sejak awal merupakan daerah penyebaran agama Islam.

Habib Husin bin Abu Bakar Alaydrus seorang mubalig besar yang bisa mengimbangi kegiatan keagamaan Belanda yang dilakukan di benteng VOC, yang letaknya tidak jauh dari Masjid Luar Batang. Dalam kekeramatannya itulah muncul (jika tidak bisa dikatakan dibuat) kisahkan ajaib. Salah satunya adalah pada suatu waktu VOC memberikan uang kepadanya agar menghentikan kegiatannya.

Baca Juga:

  1. Saksi Bisu Penyebaran Islam di Condet
  2. Ketika Ejekan Sara Belum Masalah di Jakarta
  3. Jan Pieterszoon Coen, Skandal Mesum dan Seruan Agama

Oleh Habib, uang itu kemudian diceburkan ke laut. Sewaktu VOC mengetahui hal ini dan menanyakan kenapa uang itu dibuang ke laut, Habib menerangkan bahwa uang itu dikirimkan kepada ibunya di Hadralmaut. VOC kemudian mengirim utusan ke Hadralmaut untuk mengecek kebenaran masalah ini. Ternyata, uang itu memang sampai di Hadralmaut.

Satu lagi kisah ajaib adalah sebelum meninggal, Habib pernah berwasiat bila dia meninggal, jenazahnya dimakamkan saja di Luar Batang. Namun, ketika dia meninggal, karena tanah di Luar Batang becek, jenazahnya dibawa ke Tanah Abang untuk dimakamkan di sana. Setibanya di Tanah Abang, sewaktu kurung batang (keranda) dibuka ternyata jenazahnya tidak ada.

Jenazahnya ternyata masih ada di Luar Batang. Maka akhirnya, jenazahnya dimakamkan saja di Luar Batang, di samping masjid. Kemudian, akibat dari perluasan masjid makamnya kini menjadi di dalam masjid.

Berikutnya yang terkenal juga Makam Keramat Pangeran Jayakarta. Makam ini terletak di

Jatinegara, Kaum, Jakarta Timur. Makam ini dianggap keramat karena dikaitkan dengan nama tokoh sejarah Indonesia yang berjuang melawan kolonialisme Belanda awal abad ke-17, yaitu pangeran Jayakarta yang menjadi salah seorang adipati Kerajaan Banten. Dikisahkan, setelah kedudukannya di Sunda Kelapa dihancurkan oleh VOC, dia lalu bergerilya di hutan-hutan jati di tempat yang sekarang disebut Jatinegara kaum, wilayah Jakarta Timur. Dia mendirikan sebuah masjid yang kini bernama masjid Salafiyah dan diperkirakan telah berumur 400 tahun. Makam beliau ada di sebelah utara masjid ini. Hingga saat ini, banyak peziarah datang berkunjung ke masjid dan ke makam untuk meminta berkah, dsb.

Tetapi, menurut sejarawan JJ Rizal dalam sebuah artikelnya di Tempo 16 Maret 2013 di sana yang berbaring bukan Pangeran Jayakarta. Sebab setelah Jayakarta dikuasai oleh VOC pada 1619, ia oleh Pangeran Ranamanggala dari Banten disingkirkan ke pegunungan di udik wilayah Banten, di Tanara, sebelah barat Jayakarta. Di sana ia menghabiskan umur sebagai nelayan. Ketika meninggal, jasadnya dikebumikan di Desa Katengahan, sekitar 5 kilometer dari Serang dan 90 kilometer sebelah barat Jakarta.

Jika bicara makam keramat yang sejarahnya juga tanda tanya, tetapi sangat terkenal adalah adalah Makam Keramat Mbah Priok. Dalam buku Manaqib yang dikeluarkan oleh pengurus makam Mbah Priok disebutkan bahwa Mbah Priok adalah seorang ulama penyebar agama Islam yang meninggal dalam pelayaran dari Palembang ke Jakarta. Nama beliau adalah Habib Hasan Al Hadad.

Beliau meninggal akibat perahu yang ditumpanginya dua kali dihantam badai. Hantaman pertama melenyapkan sebagian besar perbekalan. Badai kedua memecahan perahu dan Habib Hasan Al Hadad menemui ajalnya. Setelah badai reda, di perahu tinggal Habib Ali Al Hadad dan jenazah Habib Hasan Al Hadad, serta sebuah periuk untuk menanak nasi.

Kemudian perahu dengan diiringi ribuan lumba-lumba terdorong ke pantai di sekitar Tanjung Priok. Tiba di pantai beberapa warga menolong. Habib Hasan dimakamkan di pantai, dengan dayung menjadi nisannya dan di bagian kaki ditancapkan kayu kecil. Sementara periuk diletakkan di sisi makam.

Selanjutnya, dikisahkan kayu kecil itu tumbuh menjadi sebuah pohon besar, yaitu pohon tanjung. Sedangkan priuk itu terus bergeser sehingga akhirnya kembali ke laut. Setiap tiga atau empat tahun, periuk muncul lagi dengan bentuk yang membesar.

Kisah ini penuh dengan kejanggalan dan ketidaklogisan.

Namun, sebagai sebuah genre folklor tidaklah masalah. Sampailah pada awal 2011, tanah makam itu yang sudah menjadi milik Pelindo dan akan dieksekusi terjadi bentrok antara petugas dengan para peziarah yang jumlahnya ribuan. Bentrok ini mengakibatkan tiga orang tewas dan ratusan luka parah.

Buntut dari bentrok ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan dibantu oleh banyak pakar mengadakan penelitian. Hasilnya bahwa seluruh cerita tentang makam Mbah Priok itu penuh dengan kejanggalan yang malah bisa dikatakan bohong besar (lihat koran Republika, 2 Mei 2011: hlm. 7).

Satu lagi keramat yang juga berkisah unik adalah Keramat Si Jagur. Keramat ini berpindah-pindah sampai akhirnya tak jadi keramat lagi. Dulu tempatnya dikeramatkan adalah kota Inten. Di sinilah meriam si Jagur, sebuah meriam buatan Portugis dari abad ke-17, mula dipuja. Dulu meriam itu dianggap sakti dapat memberi apa saja yang diminta oleh para peziarah, seperti minta cepat kaya, mudah mendapat jodoh, mendapat keturunan dan sebagainya.

Karena dianggap telah menjadikan peziarah orang yang syirik, maka pada tahun 60-an oleh gubernur Jakarta, meriam yang beratnya hampir enam ton itu dipindahkan ke Museum Nasional di Jalan Merdeka Barat dan tidak boleh diziarah lagi. Tetapi, tetap saja diam-diam masih ada yang menziarahi. Karena itu meriam itu dipindah tempatkan di halaman belakang gedung bekas Balai Kota (Stad Huis) zaman dulu di Taman Fatahillah Jakarta Barat yang dijadikan sebagai Museum Jakarta. Meriam itu kini kabarnya sudah dipindahkan lagi ke halaman depan dan bisa dilihat oleh umum. Tetapi, sudah tidak ada tampak peziarahnya lagi kecuali wisatawan local dan mancanegara yang tak tahu lagi kisah panjangnya, yang historis maupun mistis.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Abdul Chaer, Folklor Betawi, hlm. 138-141. Bukunya tersedia di  TokopediaBukalapak, dan Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Lebih jauh baca:

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Profil Etnik Jakarta karya Lance Castles yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.