Kemelekeran

0
488
Saat berbuka puasa banyak yang makan dengan kalap, di sinilah bahaya kemelekeran sering terjadi.

Meskipun awaknya sangat lemes. Perutnya kekenyangan lantaran berbukanya tidak kira-kira, yaitu nasi uduk dua bungkus, ketan tiga tanding, es sirup dua gelas, tape dua lonjoran. Tetapi, Jabrik bangkit juga sembari menyambar peci dan sarungnya mengintili mertuanya menuju langgar di belakang rumah.

Demikianlah gambaran sastrawan terkemuka Betawi, Firman Muntaco, dalam Gambang Djakarte terbitan 1960 tentang fenomena waktu berbuka puasa yang ditunggu-tunggu dan tak jarang dijadikan ajang balas dendam dengan menggempur langsung banyak makanan dalam waktu singkat. Tetapi, untunglah Jabrik yang digambarkan umurnya baru 20 tahun, tetapi sudah kawin dan tinggal di rumah mertuanya yang bawel di Jembatan Merah itu masih bisa bangkit serta menunaikan sembahyang taraweh.

Sebab ada yang tahapnya sampai tidak mampu bangkit. Orang Betawi menyebut ini dengan istilah kemelekeran. Abdul Chaer dalam Kamus Dialek Jakarta mengartikannya sebagai terlalu kenyang. Bukan tidak tepat tetapi agak kurang dapat efek dramatisnya sebagai stadium yang lebih serius dari kekenyangan. Sebab orang yang kemelekeran terkapar, sulit bernapas, dengan keringat dingin bercucuran sebesar jagung pipilan dan harus dapat pengobatan.

Baca Juga:

  1. Timun Suri
  2. Bir di Jawa
  3. Pondok yang Gede di Kampung yang Kecil

Saben bulan puasa fenomena si Jabrik itu rupanya terus ada. Jumlah pengikutnya pun membesar. Buktinya mayoritas surat kabar selalu saja menurunkan artikel dengan titel, seperti “Bahaya Makan Terlalu Banyak saat Berbuka Puasa”, “Solusi Jitu Agar Tidak Kalap Makan Saat Berbuka Puasa”, “Jangan ‘Balas Dendam’ Saat Berbuka Puasa” dan lainnya yang bunyinya mirip-mirip. Intinya semua ingin mewanti-wanti jangan jadikan saat berbuka ajang balas dendam menyerang membabibuta makanan enak. Bahaya karena bikin berat badan meningkat dan gangguan pencernaan yang tidak baik bagi tubuh.

Lebih jauh juga tidak baik bagi jiwa. Sebab tidak sesuai dengan puasa yang sebenarnya bertujuan membentuk “state of mind” dengan latihan menahan diri dan artinya juga menunda kesenangan. Berlebihan dalam memuaskan rasa lapar sampai kekenyangan, apalagi kemelekeran saat puasa adalah tanda-tanda orang yang kufur alias ingin terus tambah dan tambah tidak ada habisnya-habisnya. Semena-mena, maen embat, tidak tahu aturan dan batas. Itu suatu siksaan tersendiri. Dalam kitab al-Quran dikatakan bahwa barang siapa kufur sesungguhnya siksa-Nya amat pedih.

buku Kamus Dialek Jakarta karya Abdul Chaer

Nah, siksa yang pedih itu dalam tradisi puasa di Betawi tidak perlu dibayangkan jauh-jauh sampai neraka, tetapi saat puasa diperlihatkan melalui orang kemelekeran yang penuh kesengsaraan. Orang-orang tua Betawi kalau ada yang kemelekeran biasanya sambil mengobati nerocos mulutnya menasihati ihwal bahaya kufur itu yang membuatmakanan banyak dan enak jadi racun di dalam badan serta jiwa. Perut si penderita diobati dengan ditempeli daun jarak hitam yang diolesi minyak kelapa dan digarang di atas api. Tetapi, sayang pohon jarak berdaun hitam kini sudah langka di Jakarta. Bahkan di pinggiran Jakarta karena merajalelanya infrastruktur yang mempersetankan aturan ruang hijau. Sementara, celakanya, fenomena orang kekenyangan dan bahkan kemelekeran di bulan puasa tampaknya semakin banyak.

Waspadalah. Puasa memang soal makan, tetapi bukan soal makan saja. Melainkan soal latihan mengingat ajaran yang sehari-hari seringa terlupa. Sampai tiba saatnya orang kenyang berlebihan, bukan saja tidak sehat tetapi juga jiwanya mati.


Buku referensi terkait diambil dari buku Kamus Dialek Jakarta karya Abdul Chaer. Buku bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakShopee atau kontak langsung ke WA 081385430505

LEAVE A REPLY