Tempat-Tempat Terkenal di Jakarta Barat Dulu

0
2043
Loka Sari yang dahulunya dikenal bernama Prinsen Park yang berada di jalan Mangga Besar Raya, yang merupakan tempat hiburan malam

Glodok, Loka Sari, Kali Jodo, Jembatan Lima, Krukut adalah beberapa nama yang dianggap mewakili identitas Jakarta barat dulu. Apakah sebenarnya tempat-tempat itu sehingga dianggap identik dengan Jakarta Barat?

Apa saja tempat-tempat yang menarik dikunjungi di Jakarta Barat dulu dan mungkin juga sampai sekarang. Jakarta Barat memang berkembang, mungkin hilang tetapi bisa juga tetap dan malahan bertambah.

Tempat-tempat itu menjadi identik dengan Jakarta Barat. Nah, apa saja tempat yang membuat orang langsung mengingat Jakarta Barat itu.

Glodok Harco, sejak dulu terkenal sebagai tempat penjualan barang elektronik. Dulunya adalah bekas gedung perusahaan importir milik Belanda bernama Lindeteves. Bagian belakang gedung Harco yang dulunya bekas kantor polisi dan penjara Glodok diubah menjadi pertokaan bernama Glodok Plaza, yang juga menjual barang-barang elektronik.

Baca Juga:

  1. Bidara Cina dan Pembantaian Orang Cina di Batavia
  2. Tempat-Tempat Populer di Jakarta Utara Dulu
  3. Dulu Mayoran Sekarang Kemayoran

Walaupun sekarang barang elektronik telah banyak dijual di berbagai Mall dan Plaza ataupun di suatu gedung khusus di wilayah Jakarta Pusat dan Selatan, tetapi masih saja banyak orang pergi ke Harco, meskipun harus berdesakan dan tempatnya kurang nyaman. Sekarang, Harco terkenal juga sebagai pusat penjualan DVD bajakan, termasuk DVD porno.

Loka Sari dulunya bernama Prinsen Park yang berada di jalan Mangga Besar Raya, tempat berbagai hiburan malam. Walaupun sempat lesu pada akhir 1970-an, tetapi bangkit kembali setelah dipenuhi dengan berbagai panti pijat dan diskotik.

Kali Jodo, terkenal sebagai tempat pelesir. Terletak di sebagian pinggiran Kali Jodo yang berhadapan dengan wilayah Tambora. Walaupun sekarang lokalisasi pelacuran sudah ditutup, tetapi ada saja rumah bordil yang berani buka.

Jembatan Lima terkenal sebagai pusat penjualan kelontong, khususnya yang terbuat dari plastik. Segala jenis apapun ada di sana dan harganya lebih murah karena harga grosiran. Lantas tentu saja Grogol dari dulu sampai sekarang identik dengan rumah sakit untuk orang gila atau orang kurang waras. Sebab memang di sana terdapat rumah sakit gila yang cukup besar. Dibangun pada 1923 oleh Pemerintah Belanda.

Ironisnya, sampai sekarang belum lagi ada rumah sakit untuk orang yang seperti itu dibangun entah oleh siapa. Padahal jumlah orang sakit jiwa menurut data statistik, khususnya di kota besar seperti Jakarta, setiap tahun selalu meningkat.

Krukut dari dulu sampai sekarang identik dengan pemukiman terbesar komunitas Arab di Jakarta. Tetapi sekarang banyak warga keturunan Arab yang telah berpindah dari wilayah itu. Sedangkan daerah pemukiman sebelumnya adalah Pekojan dan Pondok Dayung.

Pasar Pagi, tempat yang sampai sekarang terkenal sebagai pusat penjualan barang kelontong apa saja. Walaupun sebagian pedagang telah direlokasi ke pertokaan Mangga Dua, tetapi sejumlah toko di Pasar Pagi masih tetap ramai.

Artikel dikutip dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 48-49

Rawa Belong terkenal sebagai pusat penjualan bunga se-Jakarta. Pasar khusus ini ramai dikunjungi pembeli sejak tengah malam sampai pagi hari. Di daerah ini terkenal juga dengan beberapa penjual nasi uduk dan ketupat sayur khas Betawi.

Kali Deres dikenal sebagai terminal bus luar kota, khusus untuk wilayah Sumatra.  Jangan lupa Stasiun BEOS, stasiun peninggalan Belanda yang sampai sekarang masih berfungsi dan terus dibenahi, walaupun di sebagian tempat masih kelihatan kekumuhannya.

Pluit identik dengan wilayah perumahan baru yang dibangun atas prakarsa Bang Ali dan bekerja sama dengan salahsatu pengembang yang dikenal kemudian menjadi bermasalah, yakni si Atjai. Pluit dan Kamal sekarang terkenal juga sebagai tempat pelelangan ikan segar dari laut.

Pinangsia identik dengan toko-toko yang menjual keramik dan sanitary.  Termasuk juga Kampung Krendang, Tanah Sereal dan Tambora sejak dulu sampai sekarang terkenal sebagai wilayah padat penduduknya yang sering terjadi kebakaran.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 48-49. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

LEAVE A REPLY