Kerkhof Taman Prasasti

0
181
Museum Taman Prasarti di Jalan Tanah Abang I. Sumber: Ensiklopedi Jakarta.

Kompleks pemakaman untuk orang Belanda (Kristen) di Kebon Jahe tepatnya di Jalan Tanah Abang I dulunya disebut Kerkhoflaan. Menurut sejarahnya pemakaman ini dibangun pada zaman VOC tahun 1795 untuk menggantikan pemakaman yang sudah penuh di Batavia (Kota Tua, sekitar Pasar Ikan sekarang.

Menjelang berakhirnya abad ke-18, Batavia pernah dijuluki sebagai “Kota Maut” akibat tingginya angka kematian. Bahkan Batavia dalam bahasa Belanda sering disebut Graf de Hollanders, yang berarti “Kuburan orang Belanda”. Tingginya angka kematian pada waktu itu dikarenakan Batavia merupakan kota yang tidak sehat. Penyebabnya antara lain adalah banyaknya lumpur yang mengendap di kanal-kanal di Batavia sehingga menjadi sarang penyakit dan berbau busuk.

Tingginya angka kematian berdampak pula pada penuhnya tempat pemakaman yang ada di sekitar Batavia. Akibatnya pada 1795 dibuat kompleks pemakaman baru di Tenabang seluas 5,9 hektare. Demi mengangkut jenazah dari Batavia ke Tenabang, pihak rumah sakit menyediakan perahu jenazah. Tetapi para pengantar harus menyewa perahu sendiri.

Dari Batavia perahu jenazah melalui Kali Krukut, lalu melintasi kanal yang dibuat Bingham. Tiba di muka Jalan Tanah Abang I, jenazah tersebut dipindahkan ke kereta jenazah (milik pemakaman) untuk selanjutnya di bawa ke dalam kompleks pemakaman untuk dimakamkan.

Baca Juga:

  1. Mesjid Tua Al-Makmur Tanah Abang
  2. Cerita Mat Item
  3. Awal Batavia Kota Markas Dagang

Banyak orang terkenal Belanda/Eropa yang dimakamkan di sini antara lain, Olivia Marianne Raffles, istri Gubernur Jenderal Thomas Raffles yang berkuasa pada 1811–1816. Selanjutnya Jenderal Kohler, bekas panglima perang Belanda dalam perang Aceh yang tewas pada 14 April 1873.

Pada 1808 gubernur Jenderal Herman Wilham Daendles (1808–1811) memerintahkan untuk memindahkan semua makam yang ada di Nieuwe Hollandsech Kerk di Kota Tua ke pemakaman umum (Nieuwe KerkhofLaan) di Tenabang. Makam-makam dipindahkan beserta dengan prasasti dan batu nisannya. Pada 1844 batu-batu nisan tersebut dipasang di dinding depan Nieuwe Kerkhof sebanyak 34 buah. Salahsatu dari prasasti dan batu nisan itu adalah batu nisan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff (1743–1750). Batu nisan van Imhoff ini banyak dibicarakan pakar sejarah karena banyak mengandung pesan-pesan nonverbal yang sangat kompleks.

Di pemakaman Kerkhof Tenabang, menurut koran Hindia Olanda dan Locomotif pada Oktober 1983, Si Pitung—pahlawan Betawi yang sering disamakan dengan Robin Hood—mati tertembak oleh Komandan Polisi Scott Heyne. Memang banyak versi tentang kehidupan dan kematian Si Pitung. Tetapi begitulah menurut koran Hindia Olanda dan Locomotif yang terbit pada waktu itu. Selanjutnya sejak 1976 pemakaman Kerkhof Tenabang ditutup (tidak menerima jenazah lagi untuk dimakamkan) oleh Pemda DKI dan dijadikan Museum Prasasti (tempat menyimpan prasasti dan batu nisan yang berasal dari pemakaman itu sendiri dan pemakaman Nieuwe Hollandsehc Kerk di Kota Tua Batavia). Hal tersebut merupakan perintah Daendles pada 1808. Selain itu sebagian area tanahnya dijadikan kompleks kantor Walikota Jakarta Pusat.

Museum Taman Prasasti menyimpan batu-batu nisan dan prasasti-prasasti yang semula berada di pemakaman Tanah Abang Kober dan pemakaman Kota Tua kecuali prasasti dan batu nisan Gubernur Jenderal Van Imhoff yang pada 1939 dipindahkan ke gedung Het Bataviaasch Genootschap yang menjadi Museum Wayang. Satu hal yang menarik bagi ahli bahasa dan sastra dalam Museum Taman Prasasti adalah prasasti nisan Dr. J.L.A Brandes, ahli sastra dan arkeologi yang wafat di Batavia pada 26 Juni 1905. Selain itu juga terdapat sebuah prasasti yang mengingatkan bahwa semua orang yang hidup akan mati.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Abdul Chaer, Tenabang Tempo Doeloe hlm. 123-125. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee atau kontak langsung ke 081385430505

Lebih jauh baca:

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Profil Etnik Jakarta karya Lance Castles yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505