Sejarah Pembangunan HI dan Sekitarnya

0
263
Peresmian Hotel Indonesia (HI) dan Patung Selamat Datang pada 1962. HI merupakan gedung bertingkat pertama di Jakarta.

Terkait dengan Asian Games 1962, dibangunlah gedung bertingkat tinggi pertama di Jakarta, yaitu Hotel Indonesia (HI). Di depan hotel bertingkat 14 ini dibuat bundaran dan kolam air mancur (atau air muncrat) yang kini menjadi ciri khasnya. Banyak orang yang mengagumi arsitektur hotel ini, begitu juga dengan kolam air mancur di depannya. Selain air mancur di depan HI, dibangun pula kolam air mancur di depan Gedung Bank Indonesia (BI) di ujung Jalan M.H. Thamrin.

Hotel Indonesia dibangun untuk menampung tamu-tamu penting dan para offisial dari kontingen-kontingen peserta Asian Games. Saya ingat waktu HI dioperasikan, orang banyak terheran-heran mendengar betapa mahalnya harga makanan yang disediakan. Misalnya gado-gado yang katanya seribu rupiah, padahal di pinggir jalan mungkin hanya 5–10 rupiah saja. Begitu juga dengan harga nasi goreng.

Baca Juga:

  1. Dari Tanah Abang Menyerang Batavia
  2. Nama Kampung Gedong Sebab Gedung Landhuis
  3. Sekolah Campuran Orang Kaya dan Orang Kampung di Jakarta

Hotel Indonesia dibangun dengan dana pampasan perang dari Jepang. Saya ingat ada seorang tetangga saya yang dikirim ke Amerika untuk belajar perhotelan. Maklumlah, sekolah perhotelan tidak ada, padahal perlu banyak tenaga ahli untuk mengelola Hotel Indonesia yang sedang dibangun itu. Tak lama setelah HI berjalan, barulah didirikan akademi perhotelan pertama di daerah Dago, Bandung, yang dikelola oleh Dinas Pariwisata.

Selain HI, dana pampasan perang dari Jepang juga digunakan untuk membangun Toserba Sarinah, Hotel Pelabuhan Ratu di pantai selatan Sukabumi, Hotel Ambarukmo di Yogyakarta, Jembatan Ampera di Palembang dan Bali Beach Hotel di Pantai Sanur, Denpasar, Bali. Pembangunan gedung-gedung besar ini semua karena arahan dan kemauan Bung Karno yang memang menyenangi pembangunan arsitektur yang monumental.

Karena saya bersekolah di SMA Negeri III B Setiabudi dari tahun 1959 hingga 1962, saya dapat menyaksikan proses pembangunan HI, sejak pemancangan fondasinya hingga selesai. Untuk sarana Asian Games, dibangun pula gedung Wisma Warta di samping HI. Gedung ini diperuntukkan bagi wartawan media cetak dan elektronik yang meliput Asian Games. Sayang gedung bersejarah ini dibongkar pada  1980-an. Di atas tanahnya kemudian dibangun Hotel Grand Hyatt yang cukup mewah.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Firman Lubis, Jakarta 1960: Kenangan Semasa Mahasiswa, hlm. 81-83. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau kontak langsung ke WA 081385430505

Lebih jauh baca:

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakShopee  .

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Pasar Gambir, Komik Cina, dan Es Shanghai karya Zeffry Alaktiri

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee dan www.komunitasbambu.id atau telpon ke 08138543050