Pesan Sukarno di Istiqlal

0
991
Presiden Sukarno dan dewan juri sayembara perancangan Masjid Istiqlal berfoto dengan tiga panel gambar karya F. Silaban yang ditetapkan sebagai pemenang pada 1955. Sumber: Selayang pandang Masjid Istiqlal (1987)

Begitu senja 22 Februari 1978 yang remang bures dicaplok malam berkumandanglah azan Magrib dari Mesjid Istiqlal. Itulah hari pertama Istiqlal digunakan bersembahyang. Itulah hari Soeharto meresmikan mesjid terbesar di Asia Tenggara yang arsiteknya, Frederik Silaban, seorang non muslim dan disebut Sukarno “by the grace of god”.

Selanjutnya hari itu dijadikan hari ulang tahun Istiqlal. Akhir Februari 2018 lalu masih dirayakan. Ada acara Festival Istiqlal dan bersih-bersih Istiqlal untuk pertama kalinya sejak diresmikan. Tetapi, apakah itu hari ulang tahun yang tepat mengingat sejarah panjang pembangunan Istiqlal?

Tanggal dan bulannya boleh jadi tepat. Tetapi, masalahnya ada pada soal merayakan ulang tahun Istiqlal ke-39 yang dihitung sejak 1978, saat Soeharto meresmikannya. Meskipun begitu tulisan ini bukan hendak menggugat hari ulang tahun Istiqlal, tetapi melihat bagaimana mesjid yang pembangunannya dipimpin Sukarno itu justru digunakan untuk melakukan desukarnoisasi. Ini suatu proyek menjinakkan wibawa, pengaruh dan kenangan Sukarno sebagai simbol harapan yang tak hilang bersama kematiannya. Caranya dengan mengerdilkan (kalau tidak dapat dikatakan menghilangkan) peran sejarah Sukarno.

Baca Juga:

  1. Ada Villa Mewah Zaman Kompeni di Kramatjati
  2. Sukarno Banyak Anak Tak Suka KB
  3. Kala Jakarta Belum Berpagar

1978 adalah tahun politik yang menandai fase baru Soeharto dalam menjalankan politik desukarnoisasi. Setelah satu dekade—untuk merayu pemilih sekaligus meredam ketidakpuasan pemilih setelah Pemilu 1977, juga mengalihkan protes massal mahasiswa 1977-1978 yang keras—Soeharto mulai memperlihatkan penghargaannya pada Sukarno.

Ditinggalkanlah model desukarnoisasi dengan mencoreng wajah Sukarno yang telah dimulai berbareng peristiwa 1 Oktober 1965 melalui proses “viktimisasi sistematis” oleh MPRS, mahasiswa dan pengadilan. Misalnya, mahasiswa menghembuskan sejumlah isu yang lantas diangkat dalam Sidang Umum oleh Ketua MPRS, A.H. Nasution, sebagai agenda sidang tentang Sukarno dalang peristiwa 1 Oktober 1965. Ini bukan saja dipropagandakan, bahkan diilmiahisasi sarjana asing, seperti Antonie C.A. Dake, Victor Fic, dan Lambert Giebels.

Sukarno diarahkan sebagai pendukung kelompok komunis yang ingin mengganti Pancasila. Sukarno telah menyelewengkan agama karena mempelajari Marxisme dan jadi atheis karena itu tidak mau membubarkan PKI. Sukarno bukan yang melahirkan Pancasila. Lantas Kopkamtib melarang dan menghapus peringatan hari lahir Pancasila yang identik dengan peran Sukarno.

Berlatarbelakang itu peresmian Istiqlal harus dilihat dalam konteks siasat baru desukarnoisasi yang selama satu dekade berjalan, tetapi tidak berhasil membungkam Sukarno. Suaranya tetap santer dari dalam kubur. Jika mengutuk tidak berhasil, maka Soeharto banting stir menghargai tetapi dalam batas-batas terkontrol. Cara barunya adalah memasukkan Sukarno ke dalam yang disebut Saya Shiraishi “keluarga Indonesia” sebagai “bapak”. Soeharto di dalam “keluarga Indonesia” itu bukan lagi “bapak” tetapi “anak” yang hendak berbakti.

Sukarno lalu menjadi program kebaktian Orde Baru. Kebaktian pertama adalah memugar kubur “bapak”. Pada 24 Januari, Soeharto melalui orang kepercayannya, Ali Moertopo, dalam peringatan ulang tahun PDI menyampaikan bahwa ia ingin memugar makam Sukarno. Inilah hal pertama yang dilakukan Soeharto dan menjadi sinyal zaman baru pemulihan kenangan terhadap Sukarno.

Selang sebulan setelahnya, 22 Februari 1978, Soeharto meresmikan Istiqlal warisan “bapak” yang telah diselesaikan pembangunannya. Untuk mengenang bakti “bapak” maka hari dan bulan disesuaikan dengan saat pertama Sukarno membuka sayembara disain arsitektural Istiqlal, saat pertama keterlibatannya dengan menjadi ketua juri dan pimpinan pembangunan yang diamanahkan para tokoh Islam. Peresmian itu adalah panggung teater membuat bangga “bapak” di surga bahwa cita-citanya membangun mesjid besar megah sudah dilaksanakan.

Lunas sudah hutang janjinya membangun mesjid megah yang  dikatakan Sukarno akan menaikkan kebanggaan dan kebangsaan umat Islam sebagai komponen besar bangsa yang ikut mendirikan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sebab itu dinamakan Istiqlal, kemerdekaan. Istiqlal adalah monumen bahwa umat Islam ada dan diakui serta diharapkan menjadi kekuatan dinamis yang mampu menggerakan orang banyak menumbangkan ketidakadilan sebelum dan sesudah Indonesia merdeka.

Karena letaknya yang berdekatan dengan Kathedral dan Gereja Imanuel, sering Istiqlal dikaitkan sebagai pesan kerukunan beragama. Bukan tidak tepat, tetapi bukan itu pesan utamanya. Harus diingat Istiqlal dekat pula dengan istana presiden, kantor menteri dan kantor gubernur. Inilah sasaran pesan utamanya.

Ketika menentukan letak bangunan Istiqlal terjadilah perdebatan antara Sukarno dan Hatta. Sukarno mengusulkan letaknya di bekas reruntuhan benteng tanah di Gambir. Hatta ingin di sekitar Kebon Kacang dekat dengan perkampungan. Tetapi, kemudian Hatta mengalah karena sepakat dengan Sukarno yang mengatakan, “rakyat di kampung-kampung tentu perlu dekat dengan Tuhan, tetapi jauh lebih perlu lagi para pemimpinnya di istana.”

Hatta memang yang mengusulkan di dalam rapat perumusan dasar negara sila pertama Pancasila baiknya ketuhanan. “Agar nilai-nilai ketuhanan terpancar kepada setiap kita yang memperjuangkan keadilan, kemanusiaan, kerakyatan, persatuan, terutama para pemimpinnya, semoga Indonesia kita tidak tersesat,” kata Hatta.

Ya, Soeharto sedang berusaha menyambungkan kekuasaannya dengan sejarah Istiqlal, sejarah Sukarno dan umat Islam. Ia mencomot tanggal bulannya yang terkait dengan pembangunan Istiqlal, seraya menjadikannya momentum peresmian mesjid bersejarah itu. Tetapi, tidak tahunnya agar mendapat kesan ia “anak” yang berbakti kepada “bapak” Sukarno, dan sanak saudara sesama muslim Indonesia.

Ironis bahwa dalam tahun-tahun pemerintahanya, Soeharto justru banyak politik pembangunannya yang dikeluarkan dari istana tidak memperlihatkan pancaran nilai-nilai ketuhanan dari Istiqlal. Politik Soeharto terhadap Islam mengingatkan pada politik Belanda terhadap Islam yang dicetuskan Snouck Hurgronje, yaitu mendukung sepenuhnya Islam agama dan pukul sampai ke akar-akarnya Islam politik. Alhasil munculah stigmatisasi “ekstrem kanan”, “islam phobi”, “islam politik”.

Soeharto pun ingkar terhadap pesan Sukarno demi menjaga nilai Istiqlal dihayati setiap pemimpin yang berkantor di dekatnya, maka tak perlu lagi pemerintah membangun mesjid di Jakarta. Pada 1997, Soeharto membangun Mesjid At Tin di Jakarta Timur. Lalu Gubernur Sutiyoso membangun mesjid yang disebut Jakarta Islamic Center di atas reruntuhan komplek pelacuran Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Presiden Jokowi membangun Mesjid Raya Jakarta di Jakarta Barat.

Demikianlah pesan dari Istiqlal untuk para pemimpin setelahnya dilupakan. Mungkin sejarawan Onghokham benar ketika bilang salah satu dampak desukarnoisasi adalah femosilan pemikiran Sukarno. Sukarno lahir di bawah bintang gemini, tetapi dari sejarahnya mungkin bukan ia yang bersifat gemini: plintat-plintut, bahkan munafik, hipokrit. Kitalah yang gemini sebab betapa warisan sejarah Sukarno dirayakan, namanya disebut-sebut, fotonya beredar luas, tetapi harapan serta pesannya dilupakan bahkan dikhianati.


Lebih jauh baca:

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Sukarno dan Modernisme Islam karya Mohammad Ridwan Lubis yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Hari-hari Terakhir Sukarno karya Peter Kasenda yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY