Timun Suri

0
877
Kong Sahuri petani timun suri di Parung

Salah satu yang khas di wilayah Jakarta dan sekitarnya saat bulan puasa tiba adalah hadirnya buah mentimun suri. Tetapi, orang Jakarta dan sekitarnya lebih senang menyebutnya timun suri—bawaan penyebutan dari orang Betawi yang gemar memendekkan kata.

Pasar-pasar serta pinggir jalan dibanjiri berton-ton timun suri dari Tambun, Lebak, bahkan Cirebon dan Pandeglang. Timun suri jadi buah buah favorit dan buah utama paling dicari saat puasa. Rasanya tidak lengkap jika sore hari saat berbuka puasa tanpa timun suri.

Adalah menarik bahwa suri dalam bahasa Melayu klasik sebagaimana dirujuk menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memang artinya sore. Tentu saja bukan berarti buah timun suri ini nikmatnya disantap sore hari. Tetapi, sore di sini mengacu kepada suasana adem dan memang buah ini bersifat mengademkan tenggorokan serta tubuh.

Baca Juga:

  1. Cerita Roti di Jakarta
  2. Bir di Jawa
  3. Pondok yang Gede di Kampung yang Kecil

Masih merujuk kepada kamus bahasa, kata suri juga dapat disimpulkan secara umum sesuatu yang dianggap luar biasa. Timun suri adalah mentimun yang luar biasa sebab ukurannya lebih besar daripada mentimun biasa. Luar biasa bukan hanya ia disebut keluarga timun (cucumis sativus), padahal sesungguhnya keluarga buah jenis labu-labuan (cucurbitaceae).

Lebih jauh lagi meskipun timun suri ini adalah jenis buah yang tak kenal musim dan bisa dipanen setiap 60 sampai 75 hari sekali, tetapi luar biasanya telah dikreasikan sedemikian rupa sehingga hanya muncul saat-saat bulan puasa. Keluarbiasaan timun suri pun bertambah kuat karena nongol hanya pada bulan puasa yang dianggap luar biasa bagi orang muslim. Bahkan oleh orang Betawi bulan puasa disebut sebagai “rajanya bulan”.

Tetapi, dalam sejarah Jawa timun suri tidak berkait sama sekali dengan “rajanya bulan” melainkan “raksasa hutan”. Buah timun suri medium perempuan sebagai karakter sentral dalam penokohannya cerita rakyat “Timun Mas”. Seorang putri cantik cerdik yang lahir dari pohon timun suri asuhan petani dengan lihai melawan raksasa rakus yang hendak menyantapnya.

Cerita rakyat dari kebudayaan Jawa itu kemudian diadopsi oleh sebuah perusahaan sirup terkemuka untuk iklan mereka selama bulan puasa. Sirup ini pula yang menjadi salah satu merek pilihan untuk membuat sajian minuman es timun suri kala puasa. Tetapi, bagi kebanyakan orang Jakarta dan sekitarnya sirup yang lama tersohor dianggap paling pas untuk membuat es minuman timun suri adalah sirup bangau yang lebih dikenal dengan sebutan cap pisang ambon. Sebab ada gambar aneka buah dan pisang ambon yang tampak paling dominan di label botolnya.

Sementara di dalam sejarah panjang Jakarta timun suri disebut telah dibudidayakan bersama sayur-sayuran dan terutama semangka yang terbaik oleh petani-petani Tionghoa miskin di ommelanden atau luar kota benteng Batavia, di sekitar Tanjung Kait, Tangerang, pada abad ke-18. Timun suri memang akan tumbuh bagus di kawasan dekat pantai. Terutama di persawahan tadah hujan seperti Tanjung Kait.

Tetapi, meskipun demikian timun suri bukan berarti termasuk bagian dari banyak tumbuhan yang dibawa dan diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa di Jawa. Timun suri justru oleh sejarawan Denys Lombard dikategorikan sebaliknya. Sebab termasuk yang disebut tanaman “labu dari Kunlun”. Kunlun adalah penamaan etnis yang sangat kabur untuk menyebut keseluruhan penduduk maritim di Asia Tenggara pada abad ke-6 Masehi. Bahkan pohonnya kemudian dibawa oleh orang-orang Tionghoa sepulang dari Nusantara untuk disebarkan di negeri mereka sebagaimana dilaporkan oleh J. Crawfurd dalam History of the Indian Archipelago (1820).

Berlatarbelakang hal itu jelaslah cerita rakyat Timun Mas adalah khazanah lama masyarakat petani Jawa dan menandakan kepopuleran timun suri yang sudah sejak masa Jawa kuno. Kepopuleran yang terus bertahan dan budidayanya meluas dilakukan juga oleh petani-petani Tionghoa di masa VOC. Petani-petani yang digarisbawahi sebagai ahli bertanam sehingga punya kebun buah berkualitas dalam catatan Andries Teiseire dalam terbitan berkala pertama Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschapen (Lembaga Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia) menjelang akhir abad ke-18.

Popularitas timun suri yang bertahan bukan sekadar jejak sejarah yang melanjut, tetapi ketika masyarakat muslim ibukota Jakarta dan sekitarnya memasukkannya ke dalam hidangan ruang paling pribadi dan di bulan paling istimewa mereka, maka ini menjelaskan bahwa puasa sampai ke lebaran adalah peristiwa budaya bergerak bersama kembali ke asal.

Nurcholis Madjid pernah mengungkpkan bahwa lebaran adalah idul fitri yang makna asalnya dari id-al-fithr. Kata id adalah akar kata yang sama dengan awdah atau awdatun, adah atau adat-un dan istiadat-un. Semua kata-kata itu mengandung makna “kembali” atau “terulang” dan kata adat-istiadat dalam bahasa Indonesia adalah serapan dari bahasa Arab itu. Artinya sesuatu yang diharapkan berulang sebagai adat kebiasaan. Melalui timun suri ada kebiasaan lama yang diingatkan bahwa adat kita sebagai masyarakat petani.

Referensi dari buku Mustika Rasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno dan buku
Folklor Betawi: Kebudayaan Dan Kehidupan Orang Betawi.

Buku referensi terkait Mustika Rasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno, buku bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakShopee dan buku Folklor Betawi: Kebudayaan Dan Kehidupan Orang Betawi, buku bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakShopee atau kontak langsung ke WA 081385430505

LEAVE A REPLY