Pondok yang Gede Di Kampung yang Kecil

0
1291
Pakhuis Pondok Gede

Asal mula nama Kampung Pondok Gede tidak terlepas dari pengembangan lahan-lahan perkebunan oleh VOC ke arah selatan dan timur Batavia, didorong oleh meningkatnya komoditas gula di pasar internasional yang menjadi primadona menggantikan rempah-rempah. Perluasan wilayah perkebunan ini mencapai hingga luar Kota Batavia atau Ommelanden di sekitar tahun 1680-1720, dimana Ommelanden menjadi sentra perkebunan dan pabrik gula menggantikan Batavia yang oleh pemerintah VOC lebih difungsikan sebagai pusat pemerintahan. Terlebih pasca ditanda tanganinya perjanjian damai dengan Mataram (1677) dan Banten (1683) menjadikan Ommelanden sebagai daerah yang lebih kondusif untuk mengembangkan lahan perkebunan, dimana tanaman tebu (Saccharum officinarum) sebagai bahan dasar gula menjadi orientasi perkebunan. Hal ini didorong oleh booming gula di pasaran dunia, komoditas pertanian yang menjadi primadona baru menggantikan rempah-rempah.

Baca Juga:

  1. Betulkah Betawi dari Mambet Tai atau Bau Tai?
  2. Ragunan dan Perang Perebutan Tahta di Banten
  3. Bir di Jawa

Upaya ini memaksa pemerintah kolonial VOC untuk melibatkan kelompok masyarakat dalam pengelolaan tanaman tebu, khususnya orang-orang Cina di Batavia. Orang-orang Cina disamping dikenal sebagai pekerja keras juga memiliki keterampilan dan teknologi pengolahan tanaman tebu menjadi gula, juga menguasai komoditas perkebunan lainnya. Teknologi berupa alat penggilingan tebu berupa rotasi batu silindris yang digerakkan oleh tenaga sapi atau kerbau, yang oleh orang Belanda disebut Suikermolen. Kemampuan ini pula yang mengantarkan orang-orang Cina berbondong-bondong datang dan menjadikan Ommelanden sebagai pintu gerbang, bahkan Ommelanden secara sempit diartikan sebagai tempat para pembuat gula Cina dan lahan perkebunan Eropa. Konsekuensi dari hal itu banyak orang-orang Cina yang dianggap memiliki jasa kepada pemerintah kolonial diberikan kemudahan dalam memiliki atau menyewa lahan perkebunan di Ommeladen, termasuk menguasai daerah perkebunan dan persawahan di Bekasi yang merupakan daerah perkebunan cukup luas.

Di wilayah Bekasi bukan perkebunan gula saja yang dibuka, terlebih setelah merosotnya industri gula di pasaran dunia sejak tahun 1722, banyak area perkebunan yang awalnya hanya tambahan berubah menjadi komoditas pengganti tebu. Seperti di daerah Pondok Gede sekarang yang di abad 18 masih bernama Kampung Kecil, komoditas tanaman kebun dan sawah seperti kacang, nila, sereh, dan karet serta padi menggeser tebu menjadi komoditas andalan.

Referensi dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta.

Disamping orang Cina, pemerintah kolonial juga memanfaatkan tenaga orang-orang pribumi untuk dijadikan tenaga kerja perkebunan, sebagai kuli pengumpul kayu sebagai bahan bakar pengolahan tebu menjadi gula. Disamping tenaga orang-orang pribumi yang sudah berada lama di Batavia, pemerintah kolonial mendatangkan tenaga orang-orang pribumi dari daerah lainnya. Untuk memenuhi sarana tempat tinggal para kuli yang bekerja di perkebunan, para tuan tanah merubah fungsi bangunan bersekat-sekat menyerupai rumah kecil yang mereka sebut sebagai pakhuis atau gudang penyimpanan hasil perkebunan menjadi tempat tinggal yang oleh para kuli pribumi disebut sebagai pondok (Regering Almanak voor Nederlandsch-Indie 1871, Staat Der Partikuliere Landerijen:  P.  273). Karena itu pula di daerah perkebunan swasta milik para tuan tanah sering kali ditemukan nama-nama kampung yang diawali dengan nama pondok.

Pondok-pondok yang berdiri berdekatan dan hampir menyatu menjadi bangunan besar ini oleh tuan tanah Belanda disebut sebagai huisvesting (perumahan), sementara para kuli pribumi pekerja perkebunan menyebutnya dengan nama Pondok Gede. Nama Pondok Gede kemudian menjadi dua nama kampung, yaitu Kampung Pondok Gede di Bekasi dan Kampung Pondok Gede di daerah Cikopo, Bogor. Untuk membedakan keduanya pemerintah kolonial Belanda menyebut daerah perkebunan atau kemudian menjadi Pondok Gede ini dengan sebutan Kleine Pondok Gede atau Pondok Gede Kecil, sebuah Pondok Gede yang berada di Kampung Kecil.


Buku referensi terkait Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat buku bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505