Haji Darip Panglima Perang dari Klender

0
383
Haji Darip si Panglima Perang Dari Klender

Darip adalah sosok fenomenal dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Pemimpin front perjuangan daerah timur ini dikenal berdedikasi tinggi, pantang menyerah, dan tanpa tedeng alingaling terhadap penjajah.

Sepak terjangnya sebagai jago silat atau biasa disebut maen pukulan tak diragukan. Ia mampu menghimpun dan mengkoordinasi para jago dan jagoan untuk patuh sebagai anak buahnya. Itu sebabnya ia dijuluki Panglima Perang dari Klender. Badan Potensi Penggerak Pembina Potensi (BPPP) Angkatan 45 menganugerahinya dengan gelar Generalissimo Van Klender 1945.

Darip lahir di Klender pada 1886 dengan nama Muhammad Arif, dari pasangan H. Kurdin bin Derun dan Hj. Nyai. Bungsu dari tiga bersaudara ini tidak mengenyam pendidikan formal. Pendidikan non formal agama Islam ia dapat dari ayahandanya.

Pada 1914, Darip menunaikan ibadah haji, lalu menetap di Mekah selama dua tahun untuk menuntut ilmu agama. Dalam perjalanan pulang dari Mekah, H. Darip transit di Pulau Sumatera. Beberapa kota sempat dia singgahi termasuk Pangkal Pinang.

Baca Juga:

  1. Kyai Mursalin Ulama Jawara Kepulauan Seribu
  2. Sabeni Jago Tanah Abang dan Etik Silat Betawi
  3. Kapiten Joncker Sanweru van Manipa

Untuk kelangsungan hidupnya H. Darip bekerja sebagai kontraktor bangunan, tinggal di masjid dan terkadang menjadi marbot. Sepulang dari rantau, di kampung halamannya, Klender, H. Darip bersama KH. Hasbiallah dan KH. Mursyidi, mengawali perjuangannya di sebuah mushala yang sekarang bernama Masjid Al Makmur.

Pada masa revolusi fisik kemerdekaan RI, bersama rekan seperjuangan yang juga seorang jago, H. Hasbullah (kakak KH. Hasbiallah), ia terpanggil untuk memimpin laskar rakyat BARA (Barisan Rakyat), yang beranggotakan para jago dan jagoan yang menguasai Klender, Pulogadung, hingga Bekasi.

Karena kharisma dan karomah ilmu yang dimilikinya, banyak jago dan jagoan tunduk kepadanya. Rumor yang berkembang saat itu, H. Darip memiliki ilmu supranatural dan kesaktian tinggi, sehingga membuat anak buahnya memiliki keberanian dan kebal terhadap senjata tajam serta peluru.

Usai perang kemerdekaan dan masa revolusi, timbul masalah baru menyangkut keamanan di ibu kota dan sekitarnya, yang disebabkan masalah sosial (Social Malaise), yaitu kemiskinan, ketiadaan lapangan kerja, dan aparat keamanan serta pemerintahan yang belum berfungsi sepenuhnya. Zaman itu dikenal sebagai zaman “Nogut” (No Good).

Kriminalitas merajalela dan dunia bawah (Onderwereld) menjadi dominan, mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat terutama di bidang ekonomi dan perniagaan. Dalam situasi inilah tokoh sekelas H. Darip menjadi andalan para pelaku ekonomi dalam mencari perlindungan.

Popularitas H. Darip sebagai jago mampu memberikan rasa aman dari gangguan para bandit, jagoan, dan tukang peras. Fotonya terpampang di toko-toko, terutama milik pedagang dari kalangan etnis Tionghoa. Para pelaku kriminal akan berpikir seribu kali untuk beraksi jika di sebuah toko terpampang fotonya.

Di mata keluarga H. Darip dikenal tertutup dan tidak pernah menceritakan perjuangannya di masa lalu. Ia berbuat demi kemaslahatan masyarakat tanpa pamrih. Kehebatannya di masa perjuangan lebih banyak diceritakan oleh orang-orang di luar lingkungan keluarga, yang mungkin pernah berjuang bersamanya.

Itu pun kerap disangkal oleh H. Darip yang lebih memilih tawadhu. H. Darip bahkan enggan dan melarang anak-anaknya untuk menuntut kepada pemerintah agar diakui sebagai pejuang kemerdekaan atau pahlawan nasional. Walau demikian nama H. Darip secara administratif tercatat dalam BPPP Angkatan 45.

Di akhir hidupnya H. Darip lebih banyak berdakwah di Masjid Al Makmur. Pejuang sejati ini wafat pada Sabtu, 13 Juni 1981. Ia dimakamkan di tanah wakaf Ar Rahman, Jl. Tanah Koja, Jatinegara Kaum, di samping makam salah seorang istrinya, Hj. Hamidah. Bendera Merah Putih menghiasi pusaranya, sebagai tanda ia seorang pejuang kemerdekaan.


Lebih jauh baca buku:

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta karya Robert Cribb yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta 1950-1970an karya Firman Lubis yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapak, dan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY