Tari Silat Betawi Namanya Blenggo

0
247
Tari Blenggo. Sumber: Profil Seni Budaya Betawi

Tari Silat Betawi sebagai sebuah unsur budaya Betawi yang memiliki unsur seni tari dan pencak silat merupakan hasil proses kreasi baru, karena sejatinya dalam Silat Betawi tidak dikenal istilah Tari Silat atau Ibing Pencak.

Tidak seperti pencak silat dari tatar Pasundan yang lebih kaya estetika dan variasi gerakan yang telah disusun dalam sebuah tari pencak maupun ibing, Silat Betawi lebih memiliki gerakan murni untuk sebuah pertarungan dengan pola garis lurus, agak sulit untuk dikemas dalam sebuah bentuk tarian.

Dalam waditra atau intrumen musik pengirik ibing pencak silat Sunda telah memiliki pola baku dalam mensinergikan dengan gerakan, hingga tercapai harmonisasi antara gerakan dan irama lagu yang mengiringi.

Baca Juga:

  1. Pala Kaki Permainan Anak-Anak Betawi Condet
  2. Serba-Serbi Golok Betawi
  3. Unjungan Ngadu Rotan Orang Bekasi

Tari silat dan ibing pencak merupakan seni pertunjukan yang sama-sama mengandung gerakan khas pencak silat. Meski demikian, ada perbedaan di antara keduanya.

Unsur gerakan dalam tari silat lebih menekankan pada nilai estetika tanpa fungsi serang-bela. Sementara dalam ibing pencak masih sangat jelas terlihat gerakan, pola langkah, dan kaidah serang-belanya.

Dengan kata lain ibing pencak merupakan gerakan jurus-jurus maen pukulan atau pencak silat yang diberi waditra (instrumen) atau kawih. Ibing pencak disusun dari beragam jurus aplikasi dengan memperhatikan unsur estetika, karenanya terdapat stilasi gerakan maen pukulan atau pencak silat.

Jika dikemas dalam sebuah bentuk seni, gerakan-gerakan Silat Betawi lebih mengena jika diterapkan pada ibing pencak ketimbang tari silat, sekalipun unsur irama hanya pada pengiring gerakan.

Belum dikenal adanya pakem baku waditra yang menekankan pada aksentuasi antara gerakan dan waditra, seperti pada ibingan pencak dari Pasundan.

Salah satu bentuk seni tari di Tanah Betawi yang dapat dikategorikan sebagai tari silat adalah Tari Blenggo. Kata blenggo memiliki arti tari, jika dilihat dari kata diblenggoin (di-tari-kan). Blenggo adalah tarian yang sebagian kecil gerakannya diambil dari kembangan-kembangan maupun intisari gerakan pencak silat Betawi maupun pencak silat Tatar Pasundan. Tidak ada pola gerakan baku dalam blenggo. Semua tergantung perbendaharaan gerakan maen pukulan atau pencak silat yang dimiliki para penarinya.

Dalam membawakan blenggo, gerakan penari dengan latar belakang pencak silat Sitembak berbeda dengan penari yang berlatar belakang pencak silat Cimande, semua tergantuk dari gerakan improvisasi para penari dalam mengatur ritme tarian.

Dalam perkembangannya, bentuk tari silat dan ibing pencak yang diadaptasi ke dalam Silat Betawi menggunakan waditra atau iringan musik, disesuaikan dengan kebudayaan setempat. Hal ini menuntut kreativitas para pengkreasinya.

Pada beberapa uji coba yang pernah dilakukan oleh para seniman yang melibatkan kalangan akademisi maupun seniman otodidak di akhir tahun 70an, musik pengiring tari Silat Betawi dipilih menyesuaikan dengan karakter dan bentuk gerakan Silat Betawi.

Misalnya sebuah aliran Silat Betawi yang banyak dipengaruhi oleh ilmu bela diri orang Tionghoa dengan gerakan khas pola lurus, lebih cocok dengan iringan musik yang juga banyak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa seperti musik gambang kromong.

Mayoritas Tari Silat Betawi yang menggunakan gambang kromong, terutama di wilayah yang kental dipengaruhi kebudayaan peranakan Tionghoa, seperti di wilayah tengah hingga ke sebelah barat Jakarta.

Sementara musik ibing pencak Sunda dominan di wilayah yang berdekatan dengan Jawa Barat seperti di Jakarta bagian timur yang tak jauh dari Bogor.

Belakangan iringan musik Sambrah juga digunakan di wilayah yang kental dengan kebudayaan Melayu seperti di Tenabang, sebagaimana yang dilakukan M. Ali Sabeni, ketika tahun 1979 menjuarai festival Tari Silat Betawi yang diadakan Pemda DKI Jakarta dan LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi).


Lebih jauh baca:

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Wilayah Kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Jakarta Punya Cara karya Zeffry Alaktiri yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Abad Awal Abad XX karya Clockener Brousson yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Dongeng Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Tanah Abang Tempo Doeloe karya Abdul Chaer yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY