Akhir Pergundikan di Hindia Belanda

0
2890
Roebiam (seorang Nyai) bersama kedua putrinya. Foto ini dibuat pada 1920 sebelum putri tertuanya dibawa ke Belanda.

Ketika tiba masa perang kemerdekaan Indonesia, nyai atau perempuan Pribumi yang menikah dengan orang Eropa mengalami konflik kesetiaan. Mereka hendak menjadi bagian dari dunia manakah dirinya, pilih ke mana? Apakah ia memilih suami Eropa dan anak-anaknya, atau memilih keluarga dan bangsanya sendiri? Pilihan ini sangat sukar saat itu. Bikin galau.

Ketika Perang Dunia II pecah, keluarga-keluarga dengan hubungan campur pun dicerai-berai oleh penjajah Jepang. Dalam rangka melakukan Japanisasi, para laki-laki Eropa ditawan dan dimasukkan ke dalam tenda-tenda. Namun karena berdarah Asia, isteri Pribumi mereka pun tidak diusik. Penjajah Jepang menciptakan perbedaan yang tajam antara orang-orang Belanda berdarah murni, Pribumi, dan berdarah campuran. Dari mereka yang berdarah campuran diharapkan dan diasumsikan bahwa mereka akan merasakan keterikatan dengan penduduk Pribumi.

Agar bisa membedakan antara orang Eropa berdarah murni dengan yang berdarah campuran, Jepang lantas mengadakan wajib pencatatan. Dalam pelaksanaannya pencatatan ini justru memicu kekacauan dan berbagai situasi aneh. Dalam pencatatan tersebut kriteria penggolongannya agak rancu dan penerapannya pun agak sembarangan. Hal ini mengakibatkan antara lain anak-anak yang lahir dari pasangan campur yang sama dimasukkan ke dalam kategori-kategori berbeda.

Keberadaan seorang ibu, nenek moyang Pribumi atau Asia mendadak menjadi sangat penting bagi anak-anak yang lahir dari hubungan campur. Berkat keberadaan perempuan tersebut, mereka akan mendapat asal-oesoel, yaitu sebuah bukti bagi keturunan Asia yang dikeluarkan oleh arsip negara dan karena itu mereka tidak dianggap sebagai orang Eropa oleh penjajah Jepang. Dengan asal-oesoel tersebut banyak keturunan perempuan Pribumi yang tinggal di luar tenda-tenda penampungan.

Baca Juga:

  1. Kawin Campur di Batavia
  2. Ondel-Ondel dan Korupsi 
  3. Masjid Tua Al-Makmur Tanah Abang

Setelah kemerdekaan, sebuah periode kekacauan dan kelumpuhan [sosial] pun kembali dimulai. Muncul sebuah situasi baru di Hindia Belanda yang dapat dilihat dari perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini lantas memberikan dampak-dampak fatal kepada keluarga-keluarga campuran di Hindia Belanda. Asal usul keturunan yang berbeda kembali memainkan peran yang menentukan.

Dalam konteks perang kemerdekaan Indonesia, nyai atau perempuan Pribumi yang menikah dengan orang Eropa mengalami konflik kesetiaan yang fundamental. Menjadi bagian dari dunia manakah dirinya, dan ia ingin menjadi bagian dari dunia yang mana? Apakah ia memilih suami Eropa dan anak-anaknya, atau memilih keluarga dan bangsanya sendiri? Pilihan ini menjadi sangat sukar pada saat itu.

Semua orang telah mengetahui bahwa upaya meraih kebebasan akan mengarah kepada kemerdekaan dan terjadinya repatriasi. Apakah ia akan mengikuti laki-laki Eropa yang telah bertahun-tahun hidup bersamanya, menuju masa depan yang tidak pasti di sebuah negeri yang sama sekali asing baginya? Atau, apakah ia akan tinggal di negeri sendiri di antara bangsanya sendiri yang berakibat dirinya tidak hanya akan kehilangan suaminya tapi juga anak-anaknya yang merupakan orang Eropa?

Salahsatu ciri yang sangat mencolok dari hubungan antar-ras di koloni adalah adanya perbedaan umur yang jauh dengan pasangan masing-masing. Para laki-laki Eropa bahkan tidak jarang jauh lebih tua dari isteri Indonesia mereka. Selisih 10–20 tahun bukanlah sebuah pengecualian, melainkan hal yang biasa.

Ada banyak perempuan yang menjadi janda pada masa dekolonisasi karena suami mereka telah meninggal dunia akibat perang atau usia lanjut. Karena hal tersebut maka mereka memilih untuk tinggal di Republik Indonesia yang baru. Sebagai akibatnya tidak sedikit perempuan Pribumi yang kehilangan kontak dengan anak-anak mereka yang berangkat ke Belanda sebagai orang Eropa. Selanjutnya para perempuan ini melebur ke dalam masyarakat Indonesia.

Para perempuan Indonesia yang ikut menyeberang kemudian pergi ke Belanda sebelum dan terutama setelah pemindahan kekuasaan pada 1949. Mereka mengikuti suami serta anak-anak Eropa mereka dan berangkat ke Eropa yang asing. Dengan demikian sejak akhir tahun 1940-an sudah ada banyak nyai di tengah masyarakat Belanda.

“Saya masih mengenali mereka dan masih ada cukup banyak yang tinggal di Belanda dalam beberapa kasus tanpa kamu sadari mereka juga merupakan kenalanmu,” tulis Tjalie Robinson di sebuah surat kepada Rob Nieuwenhuys pada 1971.

Artikel dikutip dari buku Reggie Bay, Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, hlm. 4-7.

Karena perbedaan usia yang jauh para perempuan Indonesia kerap masih bertahan hidup bertahun-tahun setelah suaminya meninggal. Terkadang sang suami pun meninggal tak lama setelah repatriasi. Dengan begitu para perempuan ini kerap bertahan sendirian selama berpuluh-puluh tahun di negeri yang sama sekali asing bagi mereka. Kebanyakan dari mereka tinggal bersama anak perempuan atau anak laki-laki mereka, satu-satunya orang yang bisa diajak berbagi masa lalunya di Hindia Belanda.

Ketika anak-anaknya—para Belanda-Indies—semakin terlihat di Belanda, sang nyai pun mulai menghilang dari pandangan. Di Belanda hidupnya kerap tidak menonjol dan berakhir dalam kesunyian. Ia hidup di sebuah dunia yang sama sekali asing. Satu-satunya hal yang masih mengikatnya dengan kehidupan di Belanda adalah anak dan cucunya.

Namun kebanyakan cucunya tidak memahami bahasanya sedikit pun. Ia terhalang dari masa lalunya dan karena keterbatasan bahasa juga terhalang dari lingkungannya. Hal ini tentu menjadi kondisi yang menyakitkan bagi kebanyakan mereka.

Sang nyai kerap tidak dapat mengajukan berbagai pertanyaan (kalaupun ada ketertarikan) atau tidak dapat menjawab pertanyaan dengan cukup jelas karena kendala bahasa. Hal ini menjelaskan mengapa, bagi banyak orang Belanda-Indies masa kini, pengetahuan akan nenek moyang mereka sendiri seringkali tidak lebih dari sekadar beberapa gambaran samar.

Di samping itu ketidaktahuan mengenai sejarah sang nyai merupakan pantulan dari gambaran negatif dirinya yang terus bergaung setelah hampir 60 tahun berakhirnya koloni Hindia Belanda [pada 2008 berdasarkan Konfrensi Meja Bundar 1949].

Jangan biarkan ada kesalahpahaman mengenai dirinya. Hampir setiap keluarga Indies memiliki seorang nyai pada generasi sebelumnya, seorang nenek moyang Pribumi. Elemen Asia pun masuk ke dalam keluarga bersamaan dengan kedatangannya. Namun tetap saja ada beberapa orang yang tidak mau membuka mulut mengenai hal tersebut, seolah-olah kehadirannya selalu menjadi aib.

Barangkali bisa menjadi sebuah penghiburan jika mengetahui bahwa keluarga kerajaan Belanda pun merasa antusias dengan kehadiran seorang keturunan nyai. Putri Laurentien yang merupakan isteri Pangeran Constantijn—putra bungsu Ratu Beatrix—adalah keturunan perempuan Pribumi bernama Mankam. Mankam hidup dalam pergundikan bersama salah seorang kakek buyut Putri Laurentien. Sudah saatnya nyai mendapat tempat yang merupakan haknya di dalam keluarga Indies dan di dalam sejarah sebelum semua terlambat dan tidak ada seorang pun yang mengingatnya lagi.

 


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku Reggie Bay, Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, hlm. 223-226. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505