Alim Ulama: Pemimpin Perjuangan di Bogor Barat

0
119
Pengurus AII Cabang Puraseda 1941. (kiri ke kanan). Nawawy Chamidy (ketua), Marhali, Masdoeki, Miktar, Soedirdja, H. Thohir, Zainal Abidin, Daisin.

Warga Bogor Barat umumnya adalah petani dan pekerja perkebunan. Di wilayah ini cukup banyak tanah partikelir (tanah milik swasta yang dulu disebut particuliere landerijen) seperti di Cibatok, Cibungbulang, Nanggung, Sadeng Jambu, Bolang Baron Baud dengan perkebunannya Cipatat, Cigudeg, Cirangsad, Bolang Toge dan Lebakwangi dsb. Lazimnya, di kala panen usai, banyak warga Bogor Barat yang mencari rejeki ke Kota Jakarta. Mereka bekerja serabutan di berbagai bidang. Wajarlah bila komunikasi dan  pertukaran informasi dengan dunia luar berlangsung cukup deras.

Masyarakat Bogor Barat dikenal taat terhadap ajaran agama. Tidak sedikit santri, alim ulama, pondok pesantren dan sekolah pendidikan agama tumbuh di sini. Selain mengelola pendidikan formal dan informal, para alim ulama ini aktif dalam organisasi pergerakan nasional, yang mulai masuk ke Bogor Barat pada dekade 1930-an.

Baca Juga:

  1. Kisah Pangeran Afrika di Bogor
  2. Depok Cagar Alam Pertama Hindia Belanda
  3. Sejarah Listrik dan Cerita Hantu di Depok

Beberapa organisasi pendidikan yang menanamkan kesadaran politik untuk bangkit melawan penjajahan Belanda, di antaranya adalah: (1) Muhammadiyah dengan Pemuda Kepanduan Hizbul Wathan di Leuwiliang dan Jasinga; (2) Al-Ittihadiyyatul Islamiyyah (AII) dan gerakan pemudanya Barisan Islam Indonesia (BII) di Cibungbulang; (3) Taman Siswa Nirmala di Jasinga pimpinan Tjakra Mihardja. Sedangkan organisasi politik nasional beserta para pimpinannya yang beroperasi di Bogor Barat, antara lain adalah Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) dan Partai Indonesia (Partindo).

Cita cita kebangsaan telah terbangun sejak zaman penjajahan Belanda ini kemudian memuncak pada zaman pendudukan Jepang, lantaran Jepang menyelenggarakan pendidikan politik dan militer kepada para alim ulama. Sejumlah alim ulama ditunjuk mengikuti latihan militer dan semi militer seperti PETA, Keibodan, Seinendan dan Hizbullah.

Tidak heran bila pada masa revolusi, dari Bogor Barat ke arah Banten, pimpinan pemerintahan RI hampir seluruhnya dipegang ulama dan kiai. Residen Banten dijabat KH Ahmad Chatib dari Pondok Pesantren (PP) Caringin, Bupati Serang dijabat KH Sjam’oen dari PP Citangkil, Bupati Lebak/Rangkasbitung dijabat KH. Tb. Hasan dari PP Kebagusan Maja, dan Bupati Pandeglang dijabat KH Abdul Hadi dari PP Cimanuk. Begitu pula para wedana, camat, anggota KNI, pimpinan pejuang laskar dan TNI, hampir seluruhnya dijabat alim ulama. Tatkala perjuangan menegakkan kemerdekaan selesai, jabatan pemerintah, baik sipil maupun militer yang sebagian besar dipegang ulama, diserahkan kepada putera-putera Indonesia yang ditunjuk oleh Pemerintah. Dengan tulus ikhlas para kiai tersebut turun panggung.


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku  Bogor Masa Revolusi (1945-1950), Sholeh Iskandar dan Batalyon O Siliwangi (2015) karya Edi Sudarjat hlm. 80-83 Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  dan www.komunitasbambu.id atau kontak langsung ke WA 081385430505

Lebih jauh baca:

Bogor Zaman Jepang 1942-1945 karya Susanto Zuhdi di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta karya Robert Cribb yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api karya Margreeth van Till yang bisa didapatkan di Tokopedia dan Shopee.

Nasionalisme dan Revolusi karya George McTurnan Kahin di Tokopedia, dan Shopee.

Bandung Masa Revolusi karya Jhon RW Smaildi TokopediaBukalapak, dan Shopee.

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Sukarno, Orang Kiri, Revolusi dan G30S 1965 karya Onghokham yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.