Home Blog Page 18

Riwayat Komik Silat

0

Sampai akhir 1970-an, di Indonesia telah hadir sekitar 50 orang komikus yang membuat komik silat. Akan tetapi, yang menonjol hanya beberapa saja dan mereka mayoritas tinggal di Jakarta.

Jakarta kebajiran komik silat pada 1970-an. Banjir komik silat ini kemudian mengalir ke kota-kota besar lain. Komik silat ini muncul tidak terle­pas dari pengaruh novel silat Cina karya Kho Ping Ho serta novel silat Jawa karya SH. Mintaredja yang beredar sekitar awal 1950-an sampai awal 1970-an.

Latar dan latarbelakang cerita atau tema komik silat berbeda-beda. Ada sebagian komik yang menggunakan latar dan latarbelakang zaman antah berantah. Ada sebagian komik yang mengguna­kan latarbelakang pada masa Majapahit. Dan sebagian komik silat lain menggunakan latarbelakang zaman Islam dan Kolonial. Selain itu, juga banyak komik silat yang menggunakan latar kedaerahan dan wilayah di Nusantara ini.

Sedangkan pengaruh corak atau ragam silatnya dipengaruhi antara lain oleh corak atau aliran silat Cina, Jawa Tengah/Timur dan Jawa Barat. Penggunaan aliran maupun latarbelakang ini tidak lepas dari pengaruh latarbelakang si pembuat komik itu sendiri. Pada komik silat ini diperlukan dan dituntut latarbelakang yang jelas. Dengan demikian, setiap pembaca dapat menghubungkan hasil bacaannya dengan konteks latar yang digunakan komik tersebut. Komik silat yang memiliki konteks sejarah umumnya akan digemari.

Baca Juga:

  1. Komik Super Hero Indonesia
  2. Film Porno di Jakarta 1970-an
  3. Bacaan Porno 1950 sampai 1970-an

Cerita silat sebenarnya sudah ada sejak pertengahan abad ke-19. Cerita itu dimuat dalam naskah Melayu-Betawi. Ceritanya diambil dari legenda Cina klasik, seperti Sie Jin Koe. Setelah adanya majalah hiburan, maka beberapa cerita itu kemudian dibuat dalam bentuk komik strip bersambung, di antaranya adalah cerita Kera Sakti atau See Yoe Kee yang terdapat dalam majalah Star Magazine (1940).

Pada 1952, cerita terkenal See Jin Koe kembali diangkat menjadi komik strip dan dimuat dalam majalah Star Weekly, penggubahnya adalah Siauw Tik Kwie (Oto Swastika). Komik ini sempat dijadikan buku sebanyak dua kali. Pertama pada 1960 dan kedua 1982 oleh penerbit yang berbeda.

Pada 1965, John Lo membuat komik silat dalam bentuk buku, berjudul Pendekar Piatu (Pantja Djaya: Bandung). Komik tersebut meru­pakan adaptasi dari cerita silat Cina yang sedang tren pada waktu itu. Secara bersamaan muncul komikus silat yang masing-masing menampilkan serial petualangan tokoh pendekar.

Sampai akhir 1970-an, di Indonesia telah hadir sekitar 50 orang komikus yang membuat komik silat. Akan tetapi, yang menonjol hanya beberapa saja. Di antaranya adalah Ganes Th yang menampilkan serial petualangan Si Buta dari Gua Hantu (1967–1972) ke berbagai wilayah di Indonesia, antara lain, Borobudur (1968), Bali (1968), Tambora (1972), Sulawesi Selatan (Sorga yang Hilang, 1973 dan Perjalanan ke Neraka (1974), Donggala (1973), Tinom­bala (1974), Larantuka, (1975), Kalimantan (Neraka Perut Bumi, 1976). Akhirnya tokoh si Buta kembali ke tempat asalnya di Jawa Barat (Mawar Berbisa, Bangkitnya si Mata Malaikat, Pamungkas Asmara, 1981-83).

Ganes juga membuat lakon carangan dengan menampilkan tokoh Reo Manusia Srigala dalam empat seri (Neraka Hijau, Hantu Kawah Rinjani, Comodo, dan Zombi). Pada masanya Ganes. Th sangat produktif. Ia juga membuat beberapa cerita perjuangan, seperti Taufan (1975), Si Jampang (1969) dan Petualang (1976). Sementara itu ia juga sempat membuat beberapa cerita yang bertema konflik keluarga, seperti Tuan Tanah Kedawung (1970), Cisadane, Krakatau, Nilam dan Kesuma, dan Api Di langit Kulon (1970-79). Beberapa karyanya yang terkenal kemudian diangkat menjadi film.

Artikel dikutip dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 82-84

Selain Ganes. Th, komikus lain adalah Hans Jaladara yang menampilkan serial silat Panji Tengkorak dalam tiga seri (Panji Tengkorak, Walet Merah dan Si Rase Terbang ( 1968–1972). Komikus lain, adalah Djair Warni yang menampilkan tokoh pendekar silat bernama Jaka Sembung dalam beberapa seri ditambah lakon carangannya, seperti Si Kinong dan Koteka.

Termasuk di sini komikus Rim yang menampilkan serial Pendekar Manggala (1970–1978), Usyah yang menampilkan serial Pendekar Bambu Kuning (1969–1976), Mansyur Daman (Man) yang membuat serial Pendekar Mandala Dari Sungai Ular (1973–1976). Tentu saja yang terkenal  Jan Mintaraga.

Sebagian dari komik tersebut kemudian juga diangkat menjadi film. Salah seorang komikus yang menonjol dalam mengga­rap komik silat adalah Teguh Santosa. Beberapa karya­nya yang berlatar sejarah zaman kolonial dan bertemakan perjuangan, adalah Sandhora, Tambusa, Mutiara, Mat Pelor, Mat Romeo, Mencari Mayat Mat Pelor dan The Godfather 1800.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 82-84. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Komik Super Hero Indonesia

0

Komik super hero  dibuat oleh sekitar 15 komikus Indonesia. Mereka menampilkan berbagai tokoh idola pahlawan­nya. Sering terjadi, tokoh-tokoh itu dikumpulkan dalam satu buku untuk bersama-sama melawan musuh yang tangguh.

Komik jenis ini pertama kali dibuat di Amerika dengan menampilkan tokohnya yang terkenal Flash Gordon (1930-an), karya Alexan­der Raymond. Setelah keberhasilan dari komik itu lalu disusul dengan komik sejenis yang menampilkan tokoh pahlawan yang kuat tangguh dan mampu mengalahkan musuh sekuat apapun.

Baca Juga:

  1. Film Pertama Masuk Jakarta
  2. Film Porno di Jakarta 1970-an
  3. Bacaan Porno 1950 sampai 1970-an

Komik jenis ini menggunakan latar masa depan. Di Indonesia pernah muncul komik semacam itu dalam dua dekade berbeda yang masing-masing menampilan tokoh pahlawannya. Pada dekade pertama 1950-an muncul tokoh Roxar, Putri Bintang dan Garuda Putih (John Lo, 1955–1957) serta Sri Asih dan Siti Gahara (R.A. Kosasih, 1953–1955).

Bersamaan dengan itu muncul Kapten Kilat (L. Hsiang, 1955) dan Kapten Komet (Kok Ong, 1955). Setelah itu muncul berba­gai tokoh lain yang dikarang oleh komikus Medan, di antaranya Djohan Taruna (Bahzar, 1962) dan Petualangan Kapten Yani (Taguan Hardjo, 1962).

Artikel dikutip dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 84-86

Pada dekade 1970-an, komik Indonesia juga diwarnai oleh komik jenis ini. Muncul tokoh-tokoh kepahlawanan, seperti serial Gundala Putra Petir karya Hasmi, serial Godam karya Wid. NS, serial Labah-Labah Merah, karya Kus Br, serial Kapten Nusantara karya Koest. D, Satria Nusantara karya Mater, Kapten Mar, karya Mar, serial Gina dan Santini karya Gerdi. WK, Serial Spider Man yang dibuat oleh Djoni Andrean dan Kapten Halilintar karya Jan Mintaraga.

Selain menggunakan latar masa depan, komik jenis tersebut kadang-kadang menggunakan latar zaman antah berantah dan menampilkan rekayasa dari kebudayaan dan teknologi tinggi. Setelah keberhasilan Gundala dan Godam, maka pada 1970-an komik di Indonesia diramai­kan dengan komik jenis super hero  itu.

Komik jenis ini yang dibuat oleh sekitar 15 komikus menampilkan berbagai tokoh idola pahlawan­nya. Sering terjadi, tokoh-tokoh itu dikumpulkan dalam satu buku untuk bersama-sama melawan musuh yang tangguh. Seperti misalnya dalam Brutal karya Kus Br, Perang karya Nono. GM serta 1000 Pendekar karya Hasmi.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 84-86. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Film Porno di Jakarta 1970-an

0

Ada yang kenal Edwich Fenech? Nah, ini bintang film porno yang terkenal di antara anak Jakarta pada 1970-an. Bagaimana cerita seluk beluk nonton film porno di masa itu? Menariknya dari bioskop lalu pindah ke rumah orang-orang kaya.

Pada 1970-an di Jakarta beredar film porno di berbagai bioskop. Yang paling terkenal adalah film porno produksi Italia yang dimainkan oleh aktris cantik Edwich Fenech.

Dari semua filmnya yang terkenal berjudul Private Teacher. Film ini sempat bertahan lama di beberapa bioskop Jakarta, khususnya bioskop kelas II dan kelas III. Edwich Fenech tampangnya kalem, tetapi kalau sedang bermain di film ia menjadi binal dan suka buka-bukaan.

Saya dan teman sekolah beberapa kali nonton serial filmnya di beberapa bioskop. Film jenis itu juga diproduksi oleh film Hongkong. Selain memproduksi film jenis silat, mereka juga memproduksi film yang cenderung ke arah pornografi. Supaya menarik perhatian, promosi film jenis ini menampilkan berbagai gambar baliho yang hot dan vulgar di depan bioskop.

Baca Juga:

  1. Film Pertama Masuk Jakarta
  2. Munculnya Bioskop Pertama di Jakarta
  3. Bacaan Porno 1950 sampai 1970-an

Kecenderungan ini diikuti oleh beberapa film Indonesia. Tren film pornografi mulai marak dalam film Indonesia, sekitar akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an. Selain film porno yang beredar di bioskop, remaja Jakarta tahun 1970-an, baik tingkat SMP maupun SMA umumnya sudah kenal dengan blue film (film biru).

Film ini lebih terang-terangan menampilkan persetubuhan yang terkadang tanpa cerita. Dulu masih dalam bentuk gulungan film 16 mm. Film ini harus diputar dengan menggunakan proyektor.

Artikel dikutip dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 19

Kami harus berbaik-baik dengan anak orang kaya yang bapaknya mempunyai proyektor. Diputarnya pun harus sembunyi-sembunyi. Biasanya kami nonton berkelompok dengan penuh ketegangan, khawatir akan ketahuan orang tuanya atau keluarganya.

Menontonnya seringkali harus menunggu waktu ketika orang tuanya pergi ke luar kota. Tetapi ada juga teman saya yang keluarganya bersikap bebas, sehingga tidak menjadi masalah bagi kami untuk menonton film begituan di rumahnya.

Biasanya seorang teman akan merasa bangga jika mempunyai koleksi film biru. Ia akan mengajak beberapa kawannya untuk menjadi bagian dari kelompok persekutuan rahasia penonton film seperti itu. Anak pemalak atau yang rajin tidak mendapat bagiannya. Saya termasuk bagian kelompok persekutuan yang diajak olehnya.

Pemutaran film biru menjadi bertambah mudah, setelah film biru itu direkam dalam bentuk kasset Betta (HVS). Orang tidak memerlukan lagi proyektor yang ruwet, tinggal masukan kaset ke dalam mesin pemutar (yang waktu itu masih sangat besar bentuknya) tetapi lebih mudah untuk dibawa ke mana suka.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 19. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Bacaan Porno 1950 sampai 1970-an

0

Ada yang kenal Valentino atau Enni Arrow? Kalau ada pasti itu dari generasi zaman 1970-an. Ada yang kenal Chin Ping Mei atau Les Hitam? Aha, itu pasti dari generasi yang lebih tua lagi, yaitu 1950-an. Tetapi, kalau kenal, semua sama setuju dan mengaku mereka generasi doyan bacaan porno.

Dulu, sebelum ada VCD/DVD porno atapun website porno yang bertebaran seperti sekarang ini, para remaja pada 1950 dan 1970-an mendapatkan hiburan bacaan dengan sembunyi-sembunyi. Tidak semua cerita remaja bersifat dan cenderung pornografi. Akan tetapi, ada cerita yang khusus ditujukan kepada remaja yang cenderung mengangkat permasalahan sekitar hubungan seks.

Cerita atau novel tersebut ternyata sudah lama beredar. Cerita jenis itu sudah ada sekitar tahun 1950-an. Bentuknya masih sederhana (buku saku) yang hanya dibungkus dengan sampul tipis dan umumnya menggunakan kertas stensil. Sebab itu, cerita tersebut dikenal dengan nama cerita stensilan.

Sebagai barang yang dianggap tabu oleh masyarakat, sudah tentu nama pengarangnya pun menggunakan nama samaran. Di antara nama samaran yang muncul dan terkenal di kalangan remaja pada 1970-an, adalah Valentino dan Enni Errow. Maka, cerita jenis tersebut juga dikenal dengan sebutan stensilan Valentino atau Enni Arrow.

Baca Juga:

  1. Film Pertama Masuk Jakarta
  2. Munculnya Bioskop Pertama di Jakarta
  3. Profesi yang Punah Tukang Hirkop dan Tukang Minyak Tanah

Entah dari mana nama itu diambil, mungkin nama Valentino diambil dari nama playboy Italy (Venesia) abad pertengahan yang pernah terkenal sebagai perayu dan penggoda wanita. Adapun asal nama Enni Arrow saya tidak tahu. Sudah tentu ketenaran mereka diikuti oleh sejumlah stensilan bajakan dengan menggunakan nama mereka.

Akan tetapi, bagi pembaca yang ahli dapat membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Berbagai judul yang tertera pada buku jenis ini saja sudah dapat mengundang birahi pembacanya, apalagi isinya. Buku jenis ini dulu bisa didapat di wilayah Pasar Senen, Pasar Baru, Lapangan Banteng dan Pasar Jatinegara.

Ada cara khusus untuk membeli buku tersebut. Biasanya penjual akan menawarkan kepada pembeli sambil berbisik dan menggunakan istilah yang telah diketahui bersama. Kalau pembeli berminat, tinggal menawar. Setelah setuju harga yang disepakati, penjual akan memasukan buku stensilan ke dalam bagian tengah buku komik atau majalah murahan dan menyerahkan kepada pembeli.

Sikap ini dilakukan sebab ada kekhawatiran bahwa buku jenis itu dilarang beredar oleh pihak kepolisian yang seakan-akan mengatasnamakan dirinya sebagai masyarakat anti buku porno.

Adapun remaja tahun 1940–1950-an atau sebelum Jepang ke Hindia Belanda mungkin lebih mengenal cerita Chin Ping Mei yang berupa saduran, baik dari bahasa Inggris dan bahasa Cina. Cerita tersebut sempat diterjemahkan diam-diam ke dalam bahasa Belanda. Cerita tersebut termasuk berani menampilkan adegan yang dianggap tabu untuk dituliskan pada masa itu.

Di samping itu, terdapat Serial Les Hitam yang condong ke pornografi. Mungkin sebagian orang tua kita yang bukan dari keluarga puritan dapat ditanya tentang kedua cerita tersebut, siapa tahu mereka masih ingat. Hadirnya bacaan jenis itu sebenarnya merupakan suatu kenyataan. Akan tetapi sebagian masyarakat yang anti terhadap pornografi menafikan keberadaannya.

Artikel dikutip dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 16-17

Apalagi di kalangan pengamat sastra. Jenis bacaan tersebut bukan saja kitch atau picisan, tetapi sebaiknya menurut mereka tidak perlu dicetak. Bacaan itu akhirnya hadir di pasar gelap dan di pinggiran. Hidupnya mengendap-ngendap, termasuk dalam kategori ini adalah komik remaja. Komik jenis ini cepat menyebar di kalangan remaja.

Komik porno ini sempat dibabat oleh pihak kepolisian. Bahkan ada operasi pembakaran khusus untuknya. Adapun novel stensilan tetap bergerilya di laci sekolah, tas remaja dan di emperan (trotoar).

Pada 1970-an merebak bacaan populer dalam bentuk komik. Selain muncul komik yang baik, sebagian muncul juga komik nakal yang cenderung cabul dengan menampilkan berbagai gambar hot. Umumnya gambar cabul itu muncul di komik jenis percintaan remaja dan di sebagian cerita silat.

Komikus yang terkenal dengan gambar hotnya adalah Budianto dan Budiayin yang spesial membuat komik percintaan remaja. Adapun komik silat buatan Djair dan Tatang S juga sudah mengarah ke pornografi.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Zeffry Alkatiri, Pasar Gambir, Es Shanghai, dan Komik Cina, hlm. 16-17. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Munculnya Bioskop-Bioskop Pertama di Jakarta

Bioskop apa saja yang muncul pertama kali di Jakarta, jenis film apa yang banyak diputar, apa persoalan yang dihadapi, siapa saja pengusaha bioskop pertama?

Tak selang lama setelah film pertama diputar di Batavia pada 5 Desember 1900, maka segera saja tontonan itu dipertunjukan di gedung permanen. Sejak saat itu pula muncul kelas-kelas bioskop dan kelompok kelas penonton.

Di ibukota provinsi selalu ada bioskop khusus untuk kalangan Eropa saja. Di Jakarta mulai di Bioskop Deca Park dan Bandung di Gedung Concordia. Bioskop Capitol, diseberang Masjid Istiqlal (sekarang sudah tidak ada), adalah bioskop Kelas I, Bioskop Kramat Theater, di wilayah Pasar Senen, adalah bioskop kelas II.

Selain itu, ada juga Bioskop Rialto, juga di Pasar Senen, yang merupakan bioskop kelas III—karena terletak di pinggiran dengan lingkungan masyarakat rendah.

Untuk orang kelas bawah lebih seronok nonton di bioskop semacam Rialto, dengan lingkungan yang kotor, tidak beda dengan lingkungan hidupnya sehari-hari. Di bioskop kelas III itu, mereka merasa lebih santai dan leluasa karena boleh angkat kaki sambil makan kacang atau pala manis.

Baca Juga:

  1. Profesi yang Punah Tukang Hirkop dan Tukang Minyak Tanah
  2. Film Pertama Masuk Jakarta
  3. Ondel-Ondel dan Korupsi

Sampai 1950-an, ketika transportasi belum memadai, ada kecenderungan bahwa pengunjung utama dari suatu bioskop adalah penduduk yang tinggal tidak jauh dari bioskop itu. Maka, tidak jarang penonton seperti sudah menjadi langganan dari bioskop tertentu.

Pihak manager bioskop juga mencarikan film-film yang cocok untuk penonton “langganannya”. Di Bioskop Orion di daerah Glodok atau Bioskop Mignon di Cirebon akan mengutamakan pemutaran film Cina. Adapun di Bioskop Cinema di Krekot mengutamakan film penuh perkelahian. Maka, penonton di daerah Glodok dan penonton di sekitar daerah Krekot terbina seleranya oleh selera film Cina atau selera film action murahan buatan Amerika.

Pada mulanya betul, usaha pemutaran film hanya dilakukan oleh orang Belanda. Orang Cina hanya menyewakan gedung. Ketika bioskop sudah menjadi bisnis yang bagus, maka orang Cina segera masuk, bahkan menguasai usaha perbioskopan. Pada 1925, sebagian besar bioskop berada di tangan orang Cina. Usaha bioskop adalah bisnis menengah yang memang merupakan bidang mereka pada saat itu. Akan tetapi, usaha bioskop ini adalah usaha yang banyak penyakitnya.

Film yang laku di bioskop A belum tentu akan laku di bioskop B, meskipun sama-sama bioskop kelas III. Sesama bioskop hampir selalu bersaing dalam memasang film. Hal ini dilakukan agar bisa lebih banyak menyedot penonton, bahkan agar bioskop saingannya “mati”.

Umpamanya, ketika bioskop A memutar film baru yang bagus, maka bioskop B, yang letaknya tidak begitu berjauhan, sengaja mendatangkan film yang lebih baru dan bagus meski sewanya mahal. Penonton bioskop A tersedot sekian hari sehinga bioskop A mengalami rugi.

Di samping itu, meski bioskop B tidak ada saingan, namun kalau hari hujan bioskop juga bisa sepi. Banyaknya risiko itu rupanya yang menjadikan bisnis ini kurang disukai orang Eropa. Adapun orang Cina perantauan memiliki keberanian dan keuletan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai kesulitan dan risiko besar.

Orang Eropa yang mampu bertahan dalam bisnis ini, bahkan dijuluki “raja bioskop” di Bandung adalah F.F. Buse, warga negara Belanda yang konon berdarah Yahudi. Ia terus bertahan sampai tahun 1950-an. Hanya ada satu dua etnik lain yang ikut serta masuk dalam bisnis ini. Etnik Arab, umpamanya, seperti Bioskop Alhambra di Malang adalah milik Hasan Surkati dan Bioskop Alhambra di Sawah Besar Jakarta milik bin Shahab.

Dominasi keseluruhan usaha bioskop terus berada di tangan etnik Cina. Organisasi Ikatan Bioskop Hindia Belanda (Nederlands Indische Bioscoop-bond), yang berdiri tahun 1934, mayoritas anggotanya adalah bioskop milik Cina. Ketuanya adalah Holthaus, orang Belanda, direktur Bioskop Central di Bogor.

Bioskopnya sendiri milik Cina. Pengangkatan Holthaus bukan mustahil untuk memudahkan hubungan dengan pihak pemerintah dan importir film Barat yang dimonopoli orang Barat. Pengurus di bawah Holthaus semuanya Cina, yakni bendahara Van der Ie pemilik Bioskop Centrale di Jatinegara, komisarisnya Yang Heng Siang pemilik Bioskop Globe Pasar Baru dan Oey Soen Tjan pemilik Bioskop Cinema di Krekot, Sawah Besar.

Artikel dikutip dari buku H. Misbach Yusa Biran, Sejarah Film 1900-1950, hlm. 27-33

Untuk menghadapi harga iklan yang semakin tinggi, bioskop-bioskop terkemuka di Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara) pada 1935 mulai menerbitan Bioscoop Courant. Kata pengantar penerbitan nomor perdana ini menjelaskan bahwa beban bioskop saat ini sudah begitu berat, tapi koran-koran di Jakarta tidak memberikan toleransi dalam harga iklan. Tidak seperti penerbitan di Surabaya. Koran besar seperti Java Bode dan Niews van den Dag malah memperlakukan usaha perfilman sebagai “sapi perah” yang menguntungkan pada masa pasaran iklan sedang menurun saat itu.

Masalah penting yang juga disinggung pada kata pengantar itu adalah mengenai besarnya beban pajak yang dikenakan oleh pemerintah. Padahal, harga karcis terpaksa turun (tidak dijelaskan kenapa turun, tapi bisa diduga karena saat itu negeri ini sedang dilanda zaman malaise).

Redaktur sambil lalu mengingatkan pemerintah, bagaimana jadinya suatu kota besar tidak memiliki bioskop? Bagaimana ribuan penduduk bisa mendapatkan hiburan yang beradab? Diakuinya bahwa bioskop memang suatu usaha komersial, tapi bisa disangkal, katanya, film telah mengabdikan diri kepada masyarakat.


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku H. Misbach Yusa Biran, Sejarah Film 1900-1950, hlm. 27-33. Informasi bisa kontak langsung ke WA 081385430505

Film Pertama Masuk Jakarta

Hanya dalam tempo lima tahun, setelah ditemukan teknologi yang bisa memproyeksikan gambar-gambar hidup bergerak ke atas layar. Kota Batavia sudah bisa menikmatinya penemuan ajaib itu. Di sebuah rumah di Tanah Abang film pertama diputar. Laki perempuan nontonnya dipisah.

Pada 30 November 1900, harian Bintang Betawi memuat pengumuman dari perusahaan Nederlandsche Bioskop Maatschappij, bahwa sedikit hari lagi akan memperlihatkan tontonan amat bagus, yaitu gambar-gambar idoep dari banyak hal yang belum lama terjadi di Eropa dan Afrika Utara.

Juga disebutkan gambar Sri Baginda Maharatu Belanda bersama Hertog Hendrick ketika memasuki ibukota Negeri Belanda, Den Haag. Pertunjukan akan berlangsung di sebuah rumah yang berada di sebelah toko mobil Fuchs di Tanah Abang. Inilah iklan pertama mengenai pertunjukan film di Hindia Belanda.

Baca Juga:

  1. Profesi yang Punah Tukang Hirkop dan Tukang Minyak Tanah
  2. Ondel-Ondel dan Korupsi 
  3. Sejarah Munculnya Golput

Itulah gambaran ketika pada penghujung 1900, masyarakat Hindia Belanda sudah bisa menyaksikan pertunjukan yang sangat ajaib, yaitu film yang saat itu disebut “gambar hidup”. Jadi hanya dalam tempo lima tahun, setelah para penemu jenial di Amerika, Prancis dan Inggris hampir secara bersamaan berhasil menemukan teknologi yang bisa memproyeksikan gambar-gambar hidup bergerak ke atas layar. Orang-orang penghuni negeri jajahan Belanda nun di khatulistiwa Asia Tenggara sudah bisa menikmati penemuan luarbiasa mereka.

Pemutaran film pertama yang dimaksud itu berlangsung pada 5 Desember 1900. Menurut iklan Bintang Betawi tanggal 5 Desember 1900, pertunjukan itu adalah Pertoendjukan Besar Yang Pertama dan seterusnya akan main pada alamat di atas, yakni di Tanah Abang Kebon Jahe (Manage) mulai jam 7 malam. Harga karcisnya terdiri dari tiga peringkat, yakni untuk kelas I f 2 (2 gulden, rupiah Belanda), Kelas II f 1 dan Kelas III f 0,50.

Pada tahun-tahun permulaan ini, pertunjukan bioskop belum memiliki tempat tetap. Pemutaran berpindah-pindah dari satu gedung ke gedung lain, seperti menyewa gedung milik Kapten Cina Tan Boen Koei. Yang sederhana diputar di tempat terbuka seperti lapangan Mangga Besar atau di Los Pasar Tanah Abang. Pertunjukan yang diselenggarakan di alam terbuka karcisnya lebih murah.

Artikel dikutip dari buku H. Misbach Yusa Biran, Sejarah Film 1900-1950, hlm. 27-33

Di samping itu, mutu proyektor yang digunakan juga menentukan tingkat harga karcis. Proyektor yang digunakan pada pemutaran di Surabaya, menurut laporan Bintang Betawi 4 Januari 1901, gambarnya amat jelek, tidak sebanding dengan proyektor milik American Biograph. Karcis dari pertunjukan diselenggarakan oleh perusahaan American Animatograph di daerah Glodok, Jakarta, hanya f 0,25 bagi penonton Cina dan f 0,10 bagi penonton Slam. Padahal, gambar tidak bergoyang-goyang, stabil. Tempat duduk wanita dan pria juga dipisah.

Yang dimaksud dengan kata “Slam” di atas adalah Pribumi, yang umumnya beragama Islam. Untuk penonton Pribumi, sejak 1903 diberikan keringanan agar bisa ikut nonton. Maklum tingkat ekonomi Pribumi umumnya amat rendah. Harga karcis 10 sen atau sama dengan harta 1 ½ liter beras itu sudah sangat terasa berat. Tapi The Royal Bioscoop, karena mungkin proyektornya bagus, maka harga karcisnya lebih tinggi: Loge f 2; Kelas I f 1; kelas II f 0,50; kelas III f 0,25. Untuk kelas yang terakhir itu diberi catatan khusus, yakni boeat orang Slam dan Djawa saja.


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku H. Misbach Yusa Biran, Sejarah Film 1900-1950, hlm. 27-33. Informasi bisa kontak langsung ke WA 081385430505

Ragunan dan Perang Perebutan Tahta di Banten

0

Apa kaitan nama Ragunan dengan bantuan Kompeni sehingga akhirnya Sultan Haji berhasil menduduki takhta Kesultanan Banten pada akhir abad ke-17?

Kawasan Ragunan dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, yaitu Kelurahan Ragunan, termasuk dalam wilayah Kecamatan Pasar Minggu, Kotamadya Jakarta Selatan.

Nama Ragunan berasal dari Pangeran Wiraguna, yaitu gelar yang disandang tuan tanah pertama kawasan itu, Hendrik Lucaasz Cardeel yang diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar atau biasa disebut Sultan Haji. Menarik untuk disimak, bagaimana seorang Belanda kelahiran Steenwijk, dianugerahi gelar begitu tinggi oleh Sultan Banten, musuh Belanda. Rangkaian peristiwanya mungkin dapat digambarkan secara sekilas sebagai berikut.

Pada 1675 dari Banten terbetik berita bahwa sebagian dari Keraton Surasowan di Banten, tempat bertakhtanya Sultan Ageng Tirtayasa, terbakar. Dua bulan setelah kebakaran itu Hendrik Lucaasz Cardeel datang. Ia seorang juru bangunan yang mengaku melarikan diri dari Batavia karena ingin memeluk agama Islam dan membaktikan diri kepada Sultan Banten.

Baca Juga:

  1. Dari Mana Nama Matraman
  2. Kebayoran atau Kebayuran
  3. Jatinegara atau Mester

Pucuk dicinta ulam tiba, Sultan memang sedang membutuhkan ahli bangunan berpengalaman. Kemudian Cardeel ditugasi memimpin pembangunan  istana dan kemudian bangunan-bangunan lainnya, termasuk bendungan serta istana peristirahatan di sebelah hulu Ci Banten, yang dikenal dengan sebutan bendungan dan istana milik Sultan Ageng Tirtayasa.

Seluruh perhatian Sultan Tirtayasa seolah-olah tersita oleh kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh Cardeel. Rupanya tidak sedikit pun terlintas dalam pikirannya untuk melakukan suatu gerakan militer ke Batavia.

Padahal ketika itu sebagian besar kekuatan Kompeni sedang dikerahkan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam rangka membantu Mataram menghadapi Pangeran Trunojoyo, dari 1677 sampai 1681.

Sementara itu, Sultan Haji terus-menerus mendesak agar dirinya segera dinobatkan menjadi sultan. Akhirnya terjadilah perang perebutan takhta antara ayah dan anak. Dalam keadaan terdesak, Sultan Haji mengirim utusan ke Batavia untuk meminta bantuan Kompeni.

Dengan bantuan Kompeni akhirnya Sultan Haji berhasil menduduki takhta Kesultanan Banten. Sultan Haji sudah tentu harus memenuhi segala tuntutan penolongnya, yaitu Belanda.

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 96-98.

Adapun yang diutus ke Batavia untuk meminta bantuan tidak lain adalah Kiai Aria Wiraguna, alias Cardeel. Atas jasanya, Cardeel ditingkatkan gelarnya menjadi Pangeran Wiraguna dan mendapatkan sejumlah hektare tanah.

Beberapa tahun kemudian, Pangeran Wiraguna merasa bahwa Kesultanan Banten terasa sempit karena semakin banyak yang tidak menyukainya. Pada 1689 Cardeel pamit kepada sultan, dengan dalih akan pulang ke negerinya.

Akan tetapi, ternyata dia menetap di Batavia, kembali memeluk agama Kristen dan menjadi tuan tanah yang kaya-raya. Tanahnya yang terluas adalah di kawasan yang namanya sampai saat ini mengingatkan kita pada sosok Hendrik Lucaasz Cardeel yang bergelar Pangeran Wiraguna, yaitu Ragunan. Di kawasan ini pula ia dimakamkan. Hingga kini makamnya dikeramatkan oleh sebagian orang.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 96-98. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Dari Mana Nama Matraman?

0

Dalam buku Kebudayaan Indis dinyatakan bahwa Di Jakarta Matraman merupakan tempat tinggal Tuan Matterman”. Apakah benar?

Matraman kini menjadi nama sebuah kecamatan, yaitu Kecamatan Matraman, Kotamadya Jakarta Timur.

Mengenai asal-usul namanya, sampai sekarang belum diperoleh keterangan yang cukup memuaskan. Pada umumnya diperkirakan kawasan itu dulu dijadikan daerah pertahanan oleh pasukan Mataram dalam rangka penyerangan kota Batavia melalui darat.

Tidak mustahil kalau di kawasan itu dibangun kubu-kubu pasukan Mataram, termasuk pasukan-pasukan dari Sumedang dan Ukur (Bandung). Pada waktu Mataram menyerang Batavia, Ukur serta Sumedang merupakan bagian dari Kesultanan Mataram dan memang diberitakan ikut berpartisipasi.

Baca Juga:

  1. Dulu Mayoran Sekarang Kemayoran
  2. Kebayoran atau Kebayuran
  3. Jatinegara atau Mester

Prof. Dr. Djoko Soekiman dalam disertasinya yang kemudian diterbitkan dengan judul Kebudayaan Indis menyatakan bahwa Di Jakarta Matraman merupakan tempat tinggal Tuan Mattermantanpa keterangan lebih lanjut mengenai sumbernya.

Dugaan lainnya, nama tersebut adalah warisan pengikut Pangeran Diponegoro sebagaimana ditulis oleh Mohammad Sulhi dalam Majalah Intisari Juni 2002 dengan judul ”Betawi yang Tercecer di Jalan”. Dugaan ini mungkin meleset karena jauh sebelum Perang Diponegoro, pada 1789 Matraman sudah disebut-sebut sebagai milik tuan tanah David Johannes Smith.

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta dan Buku Kebudayaan Indies

Menurut F. de Haan, kawasan itu diberikan kepada orang-orang Jawa dari Mataram setelah Mataram berada di bawah pengaruh Kompeni dan menyusul ditandatanganinya perjanjian antara Mataram dan VOC tertanggal 28 Februari 1677.

Mungkin orang-orang Mataram yang ditempatkan di kawasan itu adalah mereka yang pada pertengahan abad ke-17 diberitakan berada di sekitar Muara Beres sampai di kawasan Kerawang. Di antara mereka ada yang mempunyai keahlian sebagai pengrajin barang-barang dari perunggu, atau gangsa, lalu mereka membuka usaha di tempat yang kini dikenal dengan nama Pegangsaan.  


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 83-85. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Kebayoran atau Kebayuran?

0

Sampai awal masa kemerdekaan Indonesia, Kebayoran menjadi nama sebuah distrik yang dikepalai oleh seorang wedana, masuk dalam wilayah Kabupaten Meester Cornelis. Wilayahnya meliputi pula kawasan Ciputat.

Kawasan Kebayoran kini terbagi menjadi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama, Kotamadya Jakarta Selatan.

Kebayoran berasal dari kata kabayuran yang artinya tempat penimbunan batang kayu bayur. Pohon bayur memiliki nama latin Acer laurinum Hask., famili Acerinae. Batangnya sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatan serta daya tahannya terhadap serangan rayap.

Baca Juga:

  1. Dulu Mayoran Sekarang Kemayoran
  2. Kampung Makasar dan Sultan Hasanuddin
  3. Jatinegara atau Mester

Bukan hanya kayu bayur yang biasa ditimbun di kawasan itu pada zaman dulu, melainkan juga jenis-jenis kayu lainnya. Kayu-kayu gelondongan yang dihasilkan dari kawasan tersebut dan sekitarnya diangkut ke Batavia melalui Kali Krukut dan Kali Grogol dengan cara dihanyutkan. Berbeda dengan keadaan sekarang, kedua sungai tersebut pada masa itu cukup lebar dan berair dalam.

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 68-69.

Sekitar 1938 di kawasan Kebayoran direncanakan akan dibangun sebuah lapangan terbang internasional, tetapi dibatalkan karena pecah Perang Dunia II. Kemudian mulai 1949 di tempat yang direncanakan untuk lapangan terbang itu dibangunlah Kota Satelit Kebayoran Baru, meliputi areal seluas 730 hektare yang menurut rencana cukup untuk dihuni oleh 100.000 jiwa, suatu jumlah yang jauh lebih kecil dengan perkembangan jumlah penduduk Jakarta kemudian hari.

Sampai awal masa kemerdekaan Indonesia, Kebayoran menjadi nama sebuah distrik yang dikepalai oleh seorang wedana, masuk dalam wilayah Kabupaten Meester Cornelis. Wilayahnya meliputi pula kawasan Ciputat.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 68-69. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Kampung Makasar dan Sultan Hasanuddin

0

Sejak kapan muncul Kampung Makasar? Siapakah yang memulai dan apakah ada kaitannya dengan Sultan Hasanuddin?

Kawasan yang termasuk Kampung Makasar kini meliputi wilayah Kelurahan Makasar dan sebagian dari wilayah Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur.

Disebut Kampung Makasar karena sejak 1686 dijadikan tempat permukiman orang-orang Makassar, di bawah pimpinan Kapten Daeng Matara. Mereka adalah bekas tawanan perang yang dibawa ke Batavia setelah Kerajaan Gowa, di bawah Sultan Hasanuddin, tunduk kepada Kompeni karena dibantu oleh Kerajaan Bone dan Soppeng.

Baca Juga:

  1. Dulu Mayoran Sekarang Kemayoran
  2. Di Cawang ada Jago Bapak Cungok
  3. Jatinegara atau Mester

Pada awalnya keberadaan mereka di Batavia diperlakukan sebagai budak, kemudian dijadikan pasukan bantuan dan dilibatkan dalam berbagai peperangan yang dilakukan Kompeni. Tahun 1673 mereka ditempatkan di sebelah utara Amanusgracht yang kemudian dikenal dengan sebutan Kampung Baru.

Mungkin merasa bukan bidangnya menggarap lahan, tanah di Kampung Makasar yang diperuntukkan bagi mereka itu tidak mereka garap sendiri, melainkan disewakan kepada pihak ketiga. Kemudian tanah tersebut jatuh ke tangan Diederik Willem Preyer.

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 64-65.

Salah seorang putri Daeng Matara menjadi istri Pangeran Purbaya dari Banten yang memiliki beberapa rumah dan ternak di Condet yang terletak sebelah barat Kampung Makasar.

Perlu dikemukakan bahwa pada 1810 secara administratif Daendels menggabungkan pasukan Makassar dengan pasukan Bugis.

Pada awal abad ke-20, tanah di Kampung Makasar menjadi milik keluarga Rollinson. “… tanggal 5 April 1916, yaitu ketika Entong Gendut memimpin segerombolan orang-orang berkerumun di depan Villa Nova, rumah Lady Rollinson, pemilik Tanah Partikelir Cililitan Besar”.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 64-65. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505