Home Blog Page 19

Jatinegara atau Mester?

0

Pada zaman pendudukan Jepang, nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara, tetapi sampai kini nama Mester itu tetap digunakan oleh masyarakatnya.

Jatinegara kini menjadi nama sebuah kecamatan, yaitu Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

Nama Jatinegara baru muncul pada kawasan tersebut sejak 1942, yaitu pada awal masa pemerintah pendudukan balatentara Jepang di Indonesia, sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda.

Sebutan Meester Cornelis mulai muncul ke pentas sejarah Kota Jakarta pada pertengahan abad ke-17, dengan diberikannya izin pembukaan hutan di kawasan itu kepada Cornelis Senen oleh pimpinan VOC di Batavia. Cornelis Senen adalah seorang guru agama Kristen dari Lontor, Pulau Banda.

Setelah tanah tumpahdarahnya dikuasai oleh Kompeni, pada 1621 Cornelis Senen mulai bermukim di Batavia dan ditempatkan di Kampung Bandan. Dengan tekun ia mempelajari agama Kristen sehingga kemudian mampu mengajarkan kepada kaum sesukunya.

Baca Juga:

  1. Bidara Cina dan Pembantaian Orang Cina di Batavia
  2. Di Cawang ada Jago Bapak Cungok
  3. Dulu Mayoran Sekarang Kemayoran

Dia dikenal mampu berkhotbah baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Portugis (kreol). Sebagai guru, ia biasa dipanggil meester, berarti tuan guru. Hutan yang dibukanya juga dikenal dengan sebutan Meester Cornelis, biasa disingkat menjadi Mester oleh orang-orang Pribumi.

Bahkan sampai dewasa ini nama itu masih umum digunakan oleh penduduk Jakarta, termasuk oleh para pengemudi angkutan kota. Kawasan hutan yang dulunya dibuka oleh Meester Cornelis Senen itu lambat-laun berkembang menjadi satelit Kota Batavia.

Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah oleh Pemerintah Hindia Belanda, dibentuklah Pemerintah Gemeente (kotapraja) Meester Cornelis, bersamaan dengan dibentuknya Gemeente Batavia. Kemudian, mulai 1 Januari 1936 Gemeente Meester Cornelis digabungkan dengan Gemeente Batavia.

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 50-54.

Selain berkedudukan sebagai gemeente, tahun 1924 Meester Cornelis menjadi kabupaten, yaitu Kabupaten Meester Cornelis yang terbagi menjadi empat kawedanan, yaitu Kawedanan Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi, dan Cikarang.

Pada zaman pendudukan Jepang, nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara, berstatus sebagai sebuah Siku, setingkat kawedanan, bersama-sama dengan Penjaringan, Mangga Besar, Tanjung Priok, Tanah Abang, Gambir, dan Pasar Senen.

Ketika secara administratif Jakarta ditetapkan sebagai Kotapraja Jakarta Raya, Jatinegara tidak lagi menjadi kawedanan karena kewedanan dipindahkan ke Matraman dengan sebutan Kawedanan Matraman. Jatinegara menjadi salahsatu wilayah Kecamatan Pulo Gadung, Kawedanan Matraman.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 50-54. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Dulu Mayoran Sekarang Kemayoran

0

Nama kawasan tersebut biasa disebut Mayoran, seperti yang tercantum dalam Plakaatboek (van der Chijs 1885 (XIV): 536) dan sebuah iklan pada Java Government Gazette, 24 Februari 1816.

Kawasan Kemayoran kini meliputi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Kemayoran, Kebon Kosong, dan Serdang, termasuk wilayah Kecamatan Kemayoran, Kotamadya Jakarta Pusat.

Nama kawasan tersebut biasa disebut Mayoran, seperti yang tercantum dalam Plakaatboek (van der Chijs 1885 (XIV): 536) dan sebuah iklan pada Java Government Gazette, 24 Februari 1816.

Baca Juga:

  1. Bidara Cina dan Pembantaian Orang Cina di Batavia
  2. Di Cawang ada Jago Bapak Cungok
  3. Masjid Tua Al-Makmur Tanah Abang

Isaac de Saint Martin tergolong pemilik tanah yang sangat kaya. Tanahnya tersebar di beberapa tempat, antara lain di pinggir sebelah timur Sungai Bekasi, di Cinere (dulu disebut Ci Kanyere) sebelah timur Sungai Krukut di Tegal Angus dan di kawasan Ancol. Luas seluruhnya berjumlah ribuan hektare.

Nama aslinya adalah Isaac de l’Ostale de Saint Martin, lahir tahun 1629 di Oleron, Bearn, Prancis. Karena suatu hal ia meninggalkan tanah airnya dan membaktikan diri kepada VOC.

Pada 1662 ia tercatat sudah berpangkat letnan dan ikut serta dalam peperangan di Cochin. Dengan pangkat mayor ia terlibat dalam peperangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ketika Kompeni membantu Mataram menghadapi Pangeran Trunojoyo.

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 73.

Pada Maret 1682 ia bersama Kapten Tack ditugaskan untuk membantu Sultan Haji menghadapi ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Pada waktu berlangsungnya perang itu, ia mulai merasa benci kepada Kapten Jonker yang dianggapnya arogan. Setelah perang itu selesai, dengan berbagai cara ia berusaha agar Jonker dikucilkan. Dan ternyata usahanya berhasil. Karena merasa dikucilkan, Jonker akhirnya bangkit melawan Kompeni walaupun akhirnya gagal.

Demikian sekilas tentang tokoh yang pangkatnya abadi melekat pada kawasan yang sebagian pernah menjadi lapangan terbang dan kemudian dijadikan arena Pekan Raya Jakarta.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 73. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Kluyuran Jakarta Bareng Bung Hatta

0

Bung Hatta doyan kluyuran sambil menikmati jajanan kaki lima Jakarta. Sejak tiba di Jakarta pada 1919, ia rutin saben Sabtu sore sampai malam menikmati jalan-jalan Jakarta.

Jakarta mempesona Bung Hatta. Sejak tiba di Jakarta, pada pertengahan tahun 1919, Bung Hatta doyan betul berspeda kluyuran ke pelbagai jurusan kota.

Selama dua tahun sekolah di Prins Hendrik School (PHS), semangat kluyuran itu tetap dijaga. Di dalam autobiografinya Mohammad Hatta Memoir (1982) dia menulis:  “Setelah aku memperoleh buku-buku dari M’a Etek Ayub [pamannya], aku tidak banyak lagi keluar berjalan-jalan dengan naik sepeda seperti sebelumnya. Aku hanya tetap keluar tiap-tiap hari Sabtu sore.”

Demikianlah saban hari Sabtu sore Bung Hatta telah mufakat untuk kluyuran dengan Bahder Djohan, sahabatnya yang sekolah di Stovia dan sama aktif dalam JSB (Jong Sumatranen Bond). Sesuai janji Bung Hatta menjemput Bahder di asramanya yang tepat onder boomen Jawi-Jawi gedong Stovia.

Jam lima sore Bung Hatta telah berdiri di kamar tidur Bahder Djohan lantas menggoncang ranjang dan berteriak: “Hai, bagaimana ini, hari sudah pukul lima!”

Dari gedong Stovia mereka berjalan kaki ke Pasar Baru, duduk-duduk sambil makan nasi goreng dan sate ayam serta minum kopi. Kelar jajan terus pergi nonton gambar idup (film) di bioskop Globe Pasar Baru. Bubar bioskop kira-kira jam sembilan atau atau setengah sepuluh masih mereka sambung lagi kluyuran dengan ngiter Weltevreden sampai jam 11 malam.

Kluyuran mentok pada satu warung kopi di Senen yang sering didatangi oleh Klepek (murid-murid sekolah Stovia). Setelah mengantarkan Bahder Djohan pulang ke Stovia, Bung Hatta pulang naik speda.

Tradisi kluyuran itu hanya terganggu kalau hujan turun lebat dengan gluduk pating blegur yang tidak memungkinkan orang kluyuran. Juga kadang-kadang diundurkan apabila Bahder  menghadapi ulangan anatomi. Guru anatomi, Dr. Vogelpoel, begitu ditakuti oleh Klepek, tidak ada diantara mereka yang berani mengabaikan waktu kalau akan menempuh ulangan anatomi.

Tetapi, ulangan atau ujian tidak bikin Bung Hatta brenti kluyuran Sabtu sore Dalam autobiografinya ia menulis: “Seluruh waktu dapat kutumpahkan untuk pelajaran sekolah. Bulan Mei aku harus menempuh ujian PHS penghabisan. Hanya dengan Bahder Djohan aku tetap bertemu, tiap-tiap petang Sabtu malam Minggu sebagaimana biasanya.”

Selama kluyuran itu terjadi pertukaran pikiran mengenai persoalan tanah air dan dunia, misalnya soal peradaban, perbedaan kultur Barat dan Timur, tempat bangsa Melayu di Asia Tenggara. Bahkan ide awal Sumpah Pemuda 1928 kemungkinan besar berawal dari pembicaraan kluyuran itu ketika sampai pada persoalan bahasa melayu dan komunikasi serta kerjasama antarpulau lingkungan Nusantara dengan mempertemukan antara organisasi daerah (Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Minahasa) dalam satu wadah Jong Indie.

Cerita Bung Hatta si Tukang Kluyuran di Jakarta itu bisa menjadi bukti bahwa dulu Jakarta sangat menyenangkan, nyaman. Jalan-jalan berskala manusia terasa akrab dan bersahabat dengan lingkungannya sehingga timbul kesan kota yang lebih merakyat.

Jakarta juga terkesan aman dan tertib sehingga tak harus risau kluyuran menikmati sore hingga ke larut malam. Jakarta pun mampu meresapkan identitas lingkungan dengan tidak meremehkan keunikan lokal, misalnya kaki lima. Sehingga sifat kesenangan pada outdoor personality masyarakat Indonesia menemukan saluran.

Baca Juga:

  1. Pram dan Asal-Usul Neofeodalisme di Jakarta
  2. Sukarno Banyak Anak, Tak Suka KB
  3. Si Biang Kerok Benyamin S

Selain bahwa kaki lima dalam suatu kota yang padat dengan bangunan mewah akan sangat meneduhkan penghuninya dengan masuk ke tenda-tenda yang intim akrab berskala manusia.

Merunut pada pemikiran arsitek Eko Budihardjo dalam Arsitektur dan Kota di Indonesia (1983), maka Bung Hatta pergi ke Senen menikmati makan di kaki lima, berdialog dan berkomunikasi yang akrab sebagai pembeli dan penjual boleh juga dikatakan sebagai upaya meresapkan sosialisme, yakni bertahan dalam kebersamaan menghadapi tantangan hidup yang penuh kegetiran.

Cerita kluyuran Bung Hatta, meminjam istilah Romo Mangunwijaya, membuktikan bahwa Jakarta pernah menjadi kota yang dirancang sangat memperhatikan “Guna” dankegetiran

Guna menunjukkan pada keuntungan, pemanfaatan dan pelayanan yang dapat diperoleh dari kota. Lebih jauh lagi kota punya daya yang menyebabkan penghuninya bisa hidup lebih tentram-nyaman sehingga inspirasi, kreativitas tergairah dan prestasi pun meningkat.

Citra menunjuk pada suatu gambaran (image), suatu kesan penghayatan yang berarti bagi seseorang. Jakarta di masa kluyuran Bung Hatta terkesan manusiawi, akrab, menarik, berkepribadian, dan sebagai kota hidup tenang aman siang malam.

Dua hal itulah yang terutama kini menghilang dari Jakarta. Di Jakarta pejalan kakilah yang bernasib paling sial. Jalur mereka diserobot. Jakarta lebih memanjakan pemakai kendaraan bermobil atau motor, jalur untuk mereka dijaga, tetapi jalur pejalan kaki diganggu terus oleh galian kabel atau pipa lalu ditinggalkan bopeng juga ojek.

Batu koral berserakan bikin was-was dan takut kena sasaran melejit dihimpit ban kendaraan melompat melukai. Tepi jalan dirampas jadi parkiran. Identitas lingkungan lenyap tertelan bangunan raksasa yang mendewakan teknologi dan mempersetankan aspek budaya; menekankan fungsi bangunan dan meremehkan keunikan-keunikan lokal; mengutamakan pertimbangan-pertimbangan rasional dan mengabaikan intuisi, semua menghasilkan wajah lingkungan yang monoton, membosankan, tak berkarakter.

Tiada lagi kenyamanan kluyuran sebab lalulintas semakin menumpuk dalam bentuk kemacetan, kecelakaan lalulintas, polusi suara, asap, bau, dan getaran. Jalan-jalan kotor, pengap dan tidak aman, dijejali berbagai jenis kendaraan dan kejahatan.  Sampah ditimbun menggunung di tepi jalan.

Pedagang kaki lima bergerilya musuh tibum. Jalur hijau ditumbuhi pertokoan dan perumahan mewah, gang-gang di kompleks perumahan yang semula berfungsi sebagai living space untuk sarana kontak sosial penduduknya diterabas menjadi jalan tikus keluar dari kemacetan.

Mengenang Bung Hatta sebagai tukang kluyuran Jakarta, teringat ungkapan Brent C. Brolin dalam The Failure of Modern Architecture (1976):  “Dulu kalau kita berpergian selalu menjumpai kenikmatan-kenikmatan visual dan kultural tak terduga, sekarang kita dihadapkan pada wajah-wajah lingkungan kota yang anonimous tidak berjiwa.”


Pernah dimuat di Media Indonesia 16 Juni 2011

Condet dari Semacam Pohon Buni

0

Data tertulis pertama yang menyebut nama Condet adalah catatan perjalanan Abraham van Riebeeck

Kawasan Condet meliputi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Batu Ampar, Kampung Tengah (disebut Kampung Gedong), dan Bale Kambang, termasuk wilayah Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur.

Nama Condet berasal dari nama sebuah anak sungai Ci Liwung, yaitu Ci Ondet. Ondet, ondeh atau ondeh-ondeh adalah nama pohon yang nama ilmiahnya Antidesma diandrum Sprg., termasuk famili Antidesmaeae (Fillet, 1888: 128). Pohon Ondet semacam pohon buni yang buahnya bisa dimakan.

Baca Juga:

  1. Cililitan punya Tuan Pieter van den Velde
  2. Ancol Dahulu Medan Perang
  3. Di Cawang ada Jago Bapak Cungok

Data tertulis pertama yang menyebut nama Condet adalah catatan perjalanan Abraham van Riebeeck, waktu masih menjadi Direktur Jenderal VOC di Batavia (nama jabatan sebelum diubah menjadi gubernur jenderal).

Dalam catatan tersebut, tanggal 24 September 1709 van Riebeck beserta rombongannya berjalan melalui anak sungai Ci Ondet: “Over mijn lant Paroeng Combale, Ratudjaja, Depok, Sringsing naar het hoodft van de spruijt Tsji Ondet” (Melalui tanah milik saya di Paroeng Combale, Ratudjaja, Depok, Sringsing menuju hulu Ci Ondet) (De Haan, 1911: 320).

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 42-43.

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 29-29.Keterangan kedua terdapat dalam surat wasiat Pangeran Purbaya (tentang tokoh tersebut dapat dilihat dalam tulisan ini pada entri: Kebantenan) yang dibuat sebelum berangkat ke pembuangan di Negapatnam, India.

Surat tersebut disahkan oleh Notaris Reguleth tertanggal 25 April 1716. Di dalamnya antara lain tertulis bahwa Pangeran Purbaya menghibahkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau di Condet kepada anak-anak dan istrinya yang ditinggalkan (De Haan, 1920: 250).

Keterangan ketiga adalah resolusi pimpinan Kompeni di Batavia tertanggal 8 Juni 1753, yaitu keputusan tentang penjualan tanah di Condet seluas 816 morgen (± 52.530 ha), seharga 800 ringgit kepada Diederik Willem Freijer. Kemudian kawasan Condet menjadi bagian dari tanah partikelir Tanjung Timur (De Haan, 1910: 51).


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 42-43. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Cililitan Punya Tuan Pieter van den Velde

0

Nama Cililitan diambil dari nama salahsatu anak sungai Ci Pinang. Kini anak sungai tersebut sudah tidak ada lagi bekasnya. Kata ci berasal dari bahasa Sunda, berarti sungai. Lilitan, atau lengkapnya lilitan kutu adalah nama semacam perdu yang nama latinnya ­Pipturus velutinus Wedd., termasuk famili Urticeae (Fillet, 1888: 201).

Kawasan Cililitan dulu terbentang dari Ci Liwung di sebelah barat sampai Ci Pinang di sebelah timur. Sebelah selatan berbatasan dengan kawasan Kampung Makasar dan Condet. Di sebelah utara berbatasan dengan kawasan Cawang.

Bagian sebelah barat Jalan Dewi Sartika sekarang, sebatas simpangan Jalan Kalibata yang biasa disebut Cililitan Kecil, sedangkan yang terletak di sebelah timur Jalan Raya Bogor dikenal dengan nama Cililitan Besar. Dewasa ini nama Cililitan dijadikan nama kelurahan, yaitu Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur.

Baca Juga:

  1. Di Cawang ada Jago Bapak Cungok
  2. Ancol Dahulu Medan Perang
  3. Bidara Cina dan Pembantaian Orang Cina di Batavia

Nama Cililitan diambil dari nama salahsatu anak sungai Ci Pinang. Kini anak sungai tersebut sudah tidak ada lagi bekasnya. Kata ci berasal dari bahasa Sunda, berarti sungai. Lilitan, atau lengkapnya lilitan kutu adalah nama semacam perdu yang nama latinnya ­Pipturus velutinus Wedd., termasuk famili Urticeae (Fillet, 1888: 201). Tanaman lilitan ini banyak tumbuh di sepanjang sungai sehingga daerahnya disebut Cililitan.

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 39-40.

Pada pertengahan abad ke-17 kawasan Cililitan merupakan bagian dari tanah partikelir Tandjoeng Oost, ketika masih dimiliki oleh Pieter van den Velde (De Haan, 1910: 50). Kemudian status kepemilikannya beberapa kali berpindah tangan. Tahun 1920-an sebagian tanah Cililitan dijadikan Lapangan Udara Cililitan (vliegeld, kata orang Belanda).

Pada masa kemerdekaan nama tersebut diubah menjadi Lapangan Udara Halim Perdanakusuma untuk mengenang jasa-jasa Abdul Halim Perdanakusuma dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 39-40. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Di Cawang Ada Jago Bapak Cungok

0

Cawang pernah menjadi buah bibir karena di sana bermukim seorang pesilat beraliran kebatinan bernama Sairin, alias Bapak Cungok.

Kawasan Cawang kini menjadi nama sebuah kelurahan, Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur.

Nama kawasan tersebut berasal dari seorang letnan Melayu yang mengabdi pada Kompeni bernama Enci Awang. Ia bermukim di daerah itu bersama pasukan yang dipimpinnya.

Baca Juga:

  1. Bidara Cina dan Pembantaian Orang Cina
  2. Ancol Dahulu Medan Perang
  3. Masjid Tua Al-Makmur Tanah Abang

Lama-kelamaan sebutan Enci Awang berubah menjadi Cawang. Letnan Enci Awang (Awang, mungkin panggilan dari Anwar) adalah bawahan dari Kapten Wan Abdul Bagus yang bersama pasukannya bermukim di kawasan yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Melayu, sebelah selatan Jatinegara.

Kurang jelas apakah sebagian atau seluruhnya, pada 1759 Cawang sudah menjadi milik Pieter van den Velde, di samping tanah-tanah miliknya yang lain seperti Tanjung Timur, Cikeas, Pondok Terong, Tanjung Priok, dan Cililitan (De Haan, 1910: 50).

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 35-36.

Pada awal abad ke-20, Cawang pernah menjadi buah bibir karena di sana bermukim seorang pesilat beraliran kebatinan bernama Sairin, alias Bapak Cungok.

Sairin dituduh oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai dalang kerusuhan di Tangerang tahun 1924. Selain itu, ia pun dinyatakan terlibat dalam pemberontakan Entong Gendut di Condet pada 1916. Condet ketika itu termasuk bagian Tanah Partikelir Tanjung Timur (Poesponegoro 1984, (IV): 299–300).


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 35-36. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Bidara Cina dan Pembantaian Orang Cina di Batavia

0

Sangat besar kemungkinannya orang Cina tersebut menanam bidara di tempat yang kini dikenal dengan sebutan Bidara Cina.

Bidara Cina kini menjadi nama sebuah kelurahan, Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

Menurut beberapa informasi, penamaan Bidara Cina dilatarbelakangi oleh peristiwa terjadinya pemberontakan orang-orang Cina di Batavia dan sekitarnya terhadap Kompeni tahun 1740. Ribuan orang mati terbunuh bermandikan darah. Peristiwa tersebut di antaranya terjadi di tempat yang kemudian disebut Bidara Cina.

Informasi tersebut tidak mustahil mengandung kebenaran walaupun mengundang beberapa pertanyaan, mengapa hanya di kawasan itu yang disebut Bidara Cina? Apa karena di sana banyak orang Cina mati bermandikan darah?

Baca Juga:

  1. Sabeni Jago Tanah Abang dan Etik Silat Betawi
  2. Ancol Dahulu Medan Perang
  3. Masjid Tua Al-Makmur Tanah Abang

Padahal peristiwa pembunuhan itu konon terjadi di pelosok Kota Batavia dan sekitarnya. Kenapa tidak disebut cina berdarah sesuai dengan kaidah bahasa Melayu yang kemudian berubah menjadi Cina bedara, selanjutnya menjadi Cina bidara?

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 31-32.

Perkiraan lainnya adalah asal nama kawasan tersebut berasal dari pohon bidara yang ditanam oleh orang Cina di situ. Bidara, atau nama latinnya Zizyphus jujuba Lam., termasuk famili Rhanneae, merupakan pohon yang kayunya cukup baik untuk bahan bangunan.

Akar dan kulitnya pahit serta mengandung obat penyembuh beberapa macam penyakit, termasuk sesak nafas. Di ketiak dahannya biasa timbul gumpalan getah. Buahnya sendiri dapat dimakan (Fillet 1888: 52).

Apa kaitan Cina dengan perkiraan di atas? Terdapat keterangan tentang adanya seorang Cina yang mengikat kontrak dan aktanya dibuat oleh Notaris Reguleth tertanggal 9 Oktober 1684 untuk menanami kawasan sekitar Benteng Noordwijk dengan pohon buah-buahan, termasuk pohon bidara (De Haan 1911, (II): 613).

Sangat besar kemungkinannya orang Cina tersebut menanam bidara di tempat yang kini dikenal dengan sebutan Bidara Cina.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 31-32. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Ancol Dahulu Medan Perang

0

Letak strategis kawasan Ancol rupanya sudah dimanfaatkan jauh sebelum kedatangan VOC, yaitu pada masa agama Islam mulai tersebar di daerah pesisir Kerajaan Sunda.

Kawasan Ancol terletak di sebelah timur Kota Tua Jakarta sampai batas kompleks Pelabuhan Tanjung Priok. Kini kawasan tersebut dijadikan sebuah kelurahan dengan nama yang sama, wilayah Kecamatan Pademangan, Kotamadya Jakarta Utara.

Baca Juga:

  1. Sabeni Jago Tanah Abang dan Etik Silat Betawi
  2. Ondel-Ondel dan Korupsi 
  3. Masjid Tua Al-Makmur Tanah Abang

Ancol mengandung arti tanah rendah berpaya-paya. Dulu bila laut sedang pasang, air payau Kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah di sekitarnya sehingga terasa asin. Wajar bila orang-orang Belanda zaman VOC menyebut kawasan tersebut sebagai Zoutelande atau tanah asin, sebutan yang juga diberikan untuk kubu pertahanan berupa kanal yang dibangun di daerah itu pada 1656 (De Haan, 1935: 103–104).

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 25-26.

Sebelum dibangun kanal untuk menghubungkan Kota Batavia, pemerintah VOC membuat Terusan Ancol yang sampai sekarang masih dapat dilayari perahu. Kemudian dibangun pula jalan yang sejajar dengan terusan. Dianggap strategis dalam rangka pertahanan kota Batavia, maka dibuatlah terusan, jalan, dan kanal di Ancol.

Letak strategis kawasan Ancol rupanya sudah dimanfaatkan jauh sebelum kedatangan VOC, yaitu pada masa agama Islam mulai tersebar di daerah pesisir Kerajaan Sunda. Dalam koropak 406, Carita Parahiyangan, Ancol disebut-sebut sebagai salahsatu lokasi medan perang, di samping Kalapa, Tanjung, Wahanten (Banten), dan tempat-tempat lainnya pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa (1521–1535).


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 25-26. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

 

Akhir Pergundikan di Hindia Belanda

0

Ketika tiba masa perang kemerdekaan Indonesia, nyai atau perempuan Pribumi yang menikah dengan orang Eropa mengalami konflik kesetiaan. Mereka hendak menjadi bagian dari dunia manakah dirinya, pilih ke mana? Apakah ia memilih suami Eropa dan anak-anaknya, atau memilih keluarga dan bangsanya sendiri? Pilihan ini sangat sukar saat itu. Bikin galau.

Ketika Perang Dunia II pecah, keluarga-keluarga dengan hubungan campur pun dicerai-berai oleh penjajah Jepang. Dalam rangka melakukan Japanisasi, para laki-laki Eropa ditawan dan dimasukkan ke dalam tenda-tenda. Namun karena berdarah Asia, isteri Pribumi mereka pun tidak diusik. Penjajah Jepang menciptakan perbedaan yang tajam antara orang-orang Belanda berdarah murni, Pribumi, dan berdarah campuran. Dari mereka yang berdarah campuran diharapkan dan diasumsikan bahwa mereka akan merasakan keterikatan dengan penduduk Pribumi.

Agar bisa membedakan antara orang Eropa berdarah murni dengan yang berdarah campuran, Jepang lantas mengadakan wajib pencatatan. Dalam pelaksanaannya pencatatan ini justru memicu kekacauan dan berbagai situasi aneh. Dalam pencatatan tersebut kriteria penggolongannya agak rancu dan penerapannya pun agak sembarangan. Hal ini mengakibatkan antara lain anak-anak yang lahir dari pasangan campur yang sama dimasukkan ke dalam kategori-kategori berbeda.

Keberadaan seorang ibu, nenek moyang Pribumi atau Asia mendadak menjadi sangat penting bagi anak-anak yang lahir dari hubungan campur. Berkat keberadaan perempuan tersebut, mereka akan mendapat asal-oesoel, yaitu sebuah bukti bagi keturunan Asia yang dikeluarkan oleh arsip negara dan karena itu mereka tidak dianggap sebagai orang Eropa oleh penjajah Jepang. Dengan asal-oesoel tersebut banyak keturunan perempuan Pribumi yang tinggal di luar tenda-tenda penampungan.

Baca Juga:

  1. Kawin Campur di Batavia
  2. Ondel-Ondel dan Korupsi 
  3. Masjid Tua Al-Makmur Tanah Abang

Setelah kemerdekaan, sebuah periode kekacauan dan kelumpuhan [sosial] pun kembali dimulai. Muncul sebuah situasi baru di Hindia Belanda yang dapat dilihat dari perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini lantas memberikan dampak-dampak fatal kepada keluarga-keluarga campuran di Hindia Belanda. Asal usul keturunan yang berbeda kembali memainkan peran yang menentukan.

Dalam konteks perang kemerdekaan Indonesia, nyai atau perempuan Pribumi yang menikah dengan orang Eropa mengalami konflik kesetiaan yang fundamental. Menjadi bagian dari dunia manakah dirinya, dan ia ingin menjadi bagian dari dunia yang mana? Apakah ia memilih suami Eropa dan anak-anaknya, atau memilih keluarga dan bangsanya sendiri? Pilihan ini menjadi sangat sukar pada saat itu.

Semua orang telah mengetahui bahwa upaya meraih kebebasan akan mengarah kepada kemerdekaan dan terjadinya repatriasi. Apakah ia akan mengikuti laki-laki Eropa yang telah bertahun-tahun hidup bersamanya, menuju masa depan yang tidak pasti di sebuah negeri yang sama sekali asing baginya? Atau, apakah ia akan tinggal di negeri sendiri di antara bangsanya sendiri yang berakibat dirinya tidak hanya akan kehilangan suaminya tapi juga anak-anaknya yang merupakan orang Eropa?

Salahsatu ciri yang sangat mencolok dari hubungan antar-ras di koloni adalah adanya perbedaan umur yang jauh dengan pasangan masing-masing. Para laki-laki Eropa bahkan tidak jarang jauh lebih tua dari isteri Indonesia mereka. Selisih 10–20 tahun bukanlah sebuah pengecualian, melainkan hal yang biasa.

Ada banyak perempuan yang menjadi janda pada masa dekolonisasi karena suami mereka telah meninggal dunia akibat perang atau usia lanjut. Karena hal tersebut maka mereka memilih untuk tinggal di Republik Indonesia yang baru. Sebagai akibatnya tidak sedikit perempuan Pribumi yang kehilangan kontak dengan anak-anak mereka yang berangkat ke Belanda sebagai orang Eropa. Selanjutnya para perempuan ini melebur ke dalam masyarakat Indonesia.

Para perempuan Indonesia yang ikut menyeberang kemudian pergi ke Belanda sebelum dan terutama setelah pemindahan kekuasaan pada 1949. Mereka mengikuti suami serta anak-anak Eropa mereka dan berangkat ke Eropa yang asing. Dengan demikian sejak akhir tahun 1940-an sudah ada banyak nyai di tengah masyarakat Belanda.

“Saya masih mengenali mereka dan masih ada cukup banyak yang tinggal di Belanda dalam beberapa kasus tanpa kamu sadari mereka juga merupakan kenalanmu,” tulis Tjalie Robinson di sebuah surat kepada Rob Nieuwenhuys pada 1971.

Artikel dikutip dari buku Reggie Bay, Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, hlm. 4-7.

Karena perbedaan usia yang jauh para perempuan Indonesia kerap masih bertahan hidup bertahun-tahun setelah suaminya meninggal. Terkadang sang suami pun meninggal tak lama setelah repatriasi. Dengan begitu para perempuan ini kerap bertahan sendirian selama berpuluh-puluh tahun di negeri yang sama sekali asing bagi mereka. Kebanyakan dari mereka tinggal bersama anak perempuan atau anak laki-laki mereka, satu-satunya orang yang bisa diajak berbagi masa lalunya di Hindia Belanda.

Ketika anak-anaknya—para Belanda-Indies—semakin terlihat di Belanda, sang nyai pun mulai menghilang dari pandangan. Di Belanda hidupnya kerap tidak menonjol dan berakhir dalam kesunyian. Ia hidup di sebuah dunia yang sama sekali asing. Satu-satunya hal yang masih mengikatnya dengan kehidupan di Belanda adalah anak dan cucunya.

Namun kebanyakan cucunya tidak memahami bahasanya sedikit pun. Ia terhalang dari masa lalunya dan karena keterbatasan bahasa juga terhalang dari lingkungannya. Hal ini tentu menjadi kondisi yang menyakitkan bagi kebanyakan mereka.

Sang nyai kerap tidak dapat mengajukan berbagai pertanyaan (kalaupun ada ketertarikan) atau tidak dapat menjawab pertanyaan dengan cukup jelas karena kendala bahasa. Hal ini menjelaskan mengapa, bagi banyak orang Belanda-Indies masa kini, pengetahuan akan nenek moyang mereka sendiri seringkali tidak lebih dari sekadar beberapa gambaran samar.

Di samping itu ketidaktahuan mengenai sejarah sang nyai merupakan pantulan dari gambaran negatif dirinya yang terus bergaung setelah hampir 60 tahun berakhirnya koloni Hindia Belanda [pada 2008 berdasarkan Konfrensi Meja Bundar 1949].

Jangan biarkan ada kesalahpahaman mengenai dirinya. Hampir setiap keluarga Indies memiliki seorang nyai pada generasi sebelumnya, seorang nenek moyang Pribumi. Elemen Asia pun masuk ke dalam keluarga bersamaan dengan kedatangannya. Namun tetap saja ada beberapa orang yang tidak mau membuka mulut mengenai hal tersebut, seolah-olah kehadirannya selalu menjadi aib.

Barangkali bisa menjadi sebuah penghiburan jika mengetahui bahwa keluarga kerajaan Belanda pun merasa antusias dengan kehadiran seorang keturunan nyai. Putri Laurentien yang merupakan isteri Pangeran Constantijn—putra bungsu Ratu Beatrix—adalah keturunan perempuan Pribumi bernama Mankam. Mankam hidup dalam pergundikan bersama salah seorang kakek buyut Putri Laurentien. Sudah saatnya nyai mendapat tempat yang merupakan haknya di dalam keluarga Indies dan di dalam sejarah sebelum semua terlambat dan tidak ada seorang pun yang mengingatnya lagi.

 


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku Reggie Bay, Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, hlm. 223-226. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

Kawin Campur di Batavia

0

Pada abad ke-17 dan ke-18, lapisan teratas masyarakat VOC di Hindia Timur terdiri dari orang-orang yang saling terhubung dalam jaringan pernikahan dan kekuasaan. Perkawinan adalah jalan memperbaiki kedudukan dan pendapatan.

Gubernur Jenderal yang memimpin dari 1650 sampai 1653, Carel Reyniersz, dan penggantinya, Joan Maetsuyker merupakan pendukung kuat perkawinan antara pegawai VOC dengan perempuan Asia atau Eurasia. Menurut mereka ada berbagai keuntungan dari hal tersebut. Para perempuan Asia lebih menguntungkan daripada perempuan-perempuan Eropa karena biaya pelayaran perempuan Eropa tentu harus ditanggung oleh laki-laki sendiri.

Keterikatan dengan tanah kelahiran membuat para perempuan Pribumi ingin tetap tinggal di Timur sehingga mereka pasti akan membujuk suami mereka untuk melakukan hal serupa. Di samping itu perempuan Asia tidak terlalu serakah dibanding perempuan Belanda. Mereka pun akan puas dengan gaji yang kecil. Dengan demikian bahaya akan para pegawai yang memperkaya diri dianggap berkurang.

Dari perkawinan-perkawinan ini kelak akan lahir anak-anak. Anak laki-laki akan menjadi calon pegawai dan anak perempuan akan menjadi calon pengantin sempurna untuk angkatan baru pegawai VOC dari Belanda.

Baca Juga:

  1. Profesi yang Punah Tukang Hirkop dan Tukang Minyak Tanah
  2. Ondel-Ondel dan Korupsi 
  3. Sejarah Munculnya Golput

Dalam kasus laki-laki Eropa dengan pangkat lebih tinggi, elite pengurus, gagasan ini pun menjadi kenyataan. Mereka menikah dengan perempuan Asia dan (terutama) Eurasia. Politik perkawinan campur ini tetap dipertahankan sampai abad ke-19.

Dengan ini De Heren van de Compagnie menunjukkan bahwa mereka tidak melihat adanya manfaat bagi Timur dalam melakukan kolonisasi masal laki-laki dan perempuan kulit putih seperti yang didukung Coen.

Dengan begitu pengiriman para perempuan Eropa ke wilayah-wilayah pendudukan pun dihentikan. Bahkan diberlakukan juga larangan emigrasi bagi para perempuan Eropa. Selanjutnya pada 1669 peraturan tersebut diperlonggar dan larangan pun dihentikan.

Namun para pendatang perempuan diwajibkan untuk tinggal di dalam koloni sedikitnya selama 15 tahun. Meski telah ditetapkan kebijaksanaan bahwa pegawai-pegawai yang dikirim diutamakan yang masih lajang, namun para pejabat tinggi seperti kepala perdagangan dan anggota dewan diizinkan berlayar ke Timur bersama isteri Eropa mereka.

Artikel dikutip dari buku Reggie Bay, Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, hlm. 4-7.

Jika mereka telah memiliki anak maka seluruh anggota keluarga pun ikut serta. Karena para isteri ini termasuk kelompok elite kecil, maka jumlah mereka selalu terlalu sedikit untuk dapat memberi pengaruh pada masyarakat kolonial.

Hal terakhir yang disebut di atas justru dilakukan oleh para perempuan yang lahir dan besar di Asia. Di samping anak-anak pasangan imigran, pada awalnya mereka adalah perempuan Asia yang masuk ke dunia Eropa lewat perkawinan dengan pegawai Eropa.

Namun kemudian lebih didominasi oleh perempuan Eurasia yang lahir dari perkawinan antara orang Eropa dengan budak perempuan Asia. Karena sedikitnya kedatangan perempuan kulit putih, mereka pun masuk ke lapisan atas masyarakat VOC melalui perkawinan dengan para fungsionaris berpangkat tinggi.

Banyak dari dogteren van Azië ini bahkan menjadi isteri gubernur jenderal yang merupakan jabatan tertinggi di Hindia Belanda. Johanna van Ommeren, isteri ketiga Gubernur Jenderal Rijcklof van Goens (yang menjabat pada 1678–1681) dilahirkan di Batavia. Begitu juga dengan Pettronella Wonderaer dan Susanna van Outhoorn. Masing-masing merupakan isteri dari Cornelis Speelman (gubernur jenderal pada 1681–1684) dan Joan van Hoorn (gubernur jenderal pada 1704–1709). Adriana Bake, isteri Petrus van der Parra (gubernur jenderal pada 1761–1775) adalah cucu Lambertus Dudde.

Dudde adalah seorang imigran yang kemudian menjadi baljuw di Batavia yang menikah dengan seorang budak perempuan Asia. Isteri kedua Willem Alting (gubernur jenderal pada 1780–1796), Maria Grebel, juga merupakan cucu seorang budak perempuan Asia.

Bahkan pada waktu itu, di dalam lapisan atas masyarakat Eropa ada sejenis “budaya perkawinan”. Adalah kebiasaan para pegawai mencoba memperbaiki kedudukan dan pendapatan mereka lewat perkawinan yang “baik”.

Menjalin hubungan dengan putri orang yang berpengaruh pun dianggap ideal. Hal itu tidak hanya memperkaya dan memperbaiki kedudukan, tetapi juga menjamin diri mereka dalam perkoncoan. Adapun hal yang terakhir itu justru sangat penting karena kedudukan yang lemah bisa dengan sangat mudah dihancurkan.

Rumor mengenai penghinaan terhadap para petinggi atau (lebih parah lagi) rumor tentang orang-orang yang berusaha memperkaya diri sudah cukup menyengsarakan mereka yang dituduh. Kapten Johan Splinter Stavorinus—lihat Roeper dan Van Gelder, In Dienst van De Compagnie, 135—menulis pada 1769 tentang masalah ini di sepucuk surat yang dikirim ke rumahnya: “Itulah akibat dari kesewenang-wenangan pemerintah, karena kata yang paling jarang diucapkan dapat memberikan akibat yang sangat buruk ketika seseorang dipermalukan dengan kata tersebut, atau jika seseorang merasa dipermalukan dengan kata tersebut. Saya mendengar banyak orang berkata bahwa mereka tidak berani lagi mempercayai saudara [setanah air] sendiri di negeri ini.”

Pada abad ke-17 dan ke 18, lapisan teratas masyarakat VOC di Hindia Belanda terdiri dari orang-orang yang saling terhubung dalam jaringan pernikahan dan kekuasaan. Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa para ayah Belanda di Timur menjodohkan anak-anak perempuan mereka—yang biasanya masih muda—demi kepentingan karier mereka sendiri.

Hal ini menjadi sangat penting dalam suatu hubungan karena menurut undang-undang, seorang isteri bahkan tunangan dapat menjadi satu-satunya pewaris. Hal ini membuat seorang janda muda atau tunangan yang ditinggal mati oleh seorang laki-laki berkedudukan menjadi pasangan ideal untuk dinikahi.

Ada banyak contoh perempuan Kreol atau Mestizo yang semasa hidupnya lebih dari satu kali menikah dengan beberapa pejabat terpandang. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan umur yang jauh antara suami dan isteri. Sang isteri biasanya sangat muda ketika dijodohkan, tidak jarang masih anak-anak.

Sebaliknya sang suami baru dianggap calon pasangan yang menarik kalau ia sudah berkarier, artinya sudah lebih berumur dari sang isteri. Contohnya Fransçoise de Wit yang dilahirkan pada 1634 dari pasangan pendatang. Ia berumur 14 tahun ketika pada 1648 menikahi direktur jenderal perdagangan di Batavia yang berumur 44 tahun, Carel Reyniersz. Pada 1650 Reyniersz diangkat menjadi gubernur jenderal.

Beberapa bulan setelah Reyniersz meninggal pada 1653, Fransçoise de Wit pun menikah lagi dengan pejabat lain. Pernikahan kembali setelah meninggalnya pasangan sangat sering terjadi dalam kalangan elite. Anggapan beberapa orang tentang terlalu cepatnya pernikahan tersebut terbaca dari dikeluarkannya dekrit pada 1642—sebagaimana terbaca dalam Gelman Taylor, “Vrouwen in De VOC-Tijd”, 32—bahwa janda-janda dilarang menikah kembali  dalam waktu tiga bulan setelah suami mereka meninggal.

 


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku Reggie Bay, Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, hlm. 4-7. Bukunya tersedia di Tokopedia, BukaLapak, Shopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505