Jatinegara atau Mester?

0
3841
Sebuah persimpangan jalan di Meester Cornelis (Thomas B. Ataladjar. 2003. Toko Merah: saksi kejayaan Batavia lama di tepian muara Ciliwung: riwayat dan kisah para penghuninya. Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta)

Pada zaman pendudukan Jepang, nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara, tetapi sampai kini nama Mester itu tetap digunakan oleh masyarakatnya.

Jatinegara kini menjadi nama sebuah kecamatan, yaitu Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

Nama Jatinegara baru muncul pada kawasan tersebut sejak 1942, yaitu pada awal masa pemerintah pendudukan balatentara Jepang di Indonesia, sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda.

Sebutan Meester Cornelis mulai muncul ke pentas sejarah Kota Jakarta pada pertengahan abad ke-17, dengan diberikannya izin pembukaan hutan di kawasan itu kepada Cornelis Senen oleh pimpinan VOC di Batavia. Cornelis Senen adalah seorang guru agama Kristen dari Lontor, Pulau Banda.

Setelah tanah tumpahdarahnya dikuasai oleh Kompeni, pada 1621 Cornelis Senen mulai bermukim di Batavia dan ditempatkan di Kampung Bandan. Dengan tekun ia mempelajari agama Kristen sehingga kemudian mampu mengajarkan kepada kaum sesukunya.

Baca Juga:

  1. Bidara Cina dan Pembantaian Orang Cina di Batavia
  2. Di Cawang ada Jago Bapak Cungok
  3. Dulu Mayoran Sekarang Kemayoran

Dia dikenal mampu berkhotbah baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Portugis (kreol). Sebagai guru, ia biasa dipanggil meester, berarti tuan guru. Hutan yang dibukanya juga dikenal dengan sebutan Meester Cornelis, biasa disingkat menjadi Mester oleh orang-orang Pribumi.

Bahkan sampai dewasa ini nama itu masih umum digunakan oleh penduduk Jakarta, termasuk oleh para pengemudi angkutan kota. Kawasan hutan yang dulunya dibuka oleh Meester Cornelis Senen itu lambat-laun berkembang menjadi satelit Kota Batavia.

Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah oleh Pemerintah Hindia Belanda, dibentuklah Pemerintah Gemeente (kotapraja) Meester Cornelis, bersamaan dengan dibentuknya Gemeente Batavia. Kemudian, mulai 1 Januari 1936 Gemeente Meester Cornelis digabungkan dengan Gemeente Batavia.

Artikel dikutip dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 50-54.

Selain berkedudukan sebagai gemeente, tahun 1924 Meester Cornelis menjadi kabupaten, yaitu Kabupaten Meester Cornelis yang terbagi menjadi empat kawedanan, yaitu Kawedanan Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi, dan Cikarang.

Pada zaman pendudukan Jepang, nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara, berstatus sebagai sebuah Siku, setingkat kawedanan, bersama-sama dengan Penjaringan, Mangga Besar, Tanjung Priok, Tanah Abang, Gambir, dan Pasar Senen.

Ketika secara administratif Jakarta ditetapkan sebagai Kotapraja Jakarta Raya, Jatinegara tidak lagi menjadi kawedanan karena kewedanan dipindahkan ke Matraman dengan sebutan Kawedanan Matraman. Jatinegara menjadi salahsatu wilayah Kecamatan Pulo Gadung, Kawedanan Matraman.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku Rachmat Ruchiat, Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta, hlm. 50-54. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  atau kontak langsung ke WA 081385430505

LEAVE A REPLY