Bung Hatta di Hari-hari Terakhir Bung Karno

0
2353
Bung Hatta yang tetap menjadi sahabat setia Bung Karno.

Hingga Sukarno menjelang wafat, Hatta tetap menjadi sahabat setia. Semua kebencian dan kecewaan semasa bersamanya menjadi bumbu kehidupan, tinggalan harta yang begitu berharga bagi bangsa.

Hatta tetap setia menjadi sahabat, meski tidak dalam politik. Politik adalah politik, sahabat tidak akan bisa dipolitikkan. Hatta tak ingin membuka cela bagi Sukarno. Bagi Hatta, persahabatan lebih berharga daripada persoalan politik yang tiada kunjung selesai.

Rona sendu bercampur cinta dua sahabat itu tergambar saat Sukarno terbaring lemah, sementara Hatta menjenguk. Pertemuan terakhir mereka berlangsung pada hari Jum’at, 19 Juni 1970. Meutia Hatta mengisahkan:

Baca Juga:

  1. Kluyuran Jakarta Bareng Bung Hatta
  2. Sukarno Suka Banyak Anak Tak Suka KB
  3. Cerita Mat Item

“Hatta, kau di sini…?” Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati. Hatta berusaha menjawab Sukarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

“Ya, bagaimana keadaanmu, No?” Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Sukarno.

Sukarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Air matanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak lama lagi. Dan Hatta juga tahu betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

“No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan selaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang. Tak lama kemudian, beberapa kali air mata mereka menetes ke bantal. Sambil memandang, Hatta beberapa lama terus memijiti lengan Sukarno.

Sukarno minta dipasangkan kacamata, agar dapat memandang Hatta lebih jelas. Tak ada kata-kata lebih lanjut, tapi kuatnya hati kedua saling berbicara. Mungkin mereka berdua mengenang suka duka di masa perjuangan bersama sejak puluhan tahun silam, masa-masa pergaulan bersama dan mungkin saling memaafkan.

Hari itu, 20 Juni 1970, sore hari, menyisakan kenangan yang tidak mudah lepas dari memori. Dua orang yang separuh hidupnya diabadikan untuk kepentingan bangsa, bertemu dalam suasana duka yang sebelumnya tiada pernah terbayangkan. Sukarno tergeletak lemah tak berdaya. Bahkan, daya ingatnya pun menurun dratis. Sukarno seolah tak ingat lagi dengan segalanya, dengan perjuangan yang dititi bersama. Pahit getir di masa pembangunan nasionalisme serta perih dan pedihnya masa mempertahankan kemerdekaan, tak sanggup terlontar dari bibir.

Sukarno tak bisa berkata-kata—ia diam dalam sakit yang teramat sangat. Pengembaraan jiwanya seolah telah final, tumpah ruah di atas pembaringan terakhir. Sukarno hanya diam, menunggu datangnya masa, dimana ia dapat menggapai swarga loka, terbang bersama cita-cita yang kandas di tangan bangsanya sendiri.

Ia diam dalam segala kepasrahan menunggu jawaban kapan jiwa melayang pada Sang Pencipta.


Dikutip dengan seizin penerbit Masup Jakarta dari buku  Hari-Hari Terakhir Sukarno karya Peter Kasenda, hlm. 230-232. Bukunya tersedia di TokopediaBukaLapakShopee  dan www.komunitasbambu.id atau kontak langsung ke WA 081385430505

Lebih jauh baca:

400 Tahun Sejarah Jakarta karya Susan Blackburn yang bisa didapatkan di TokopediaBukaLapakdan Shopee.

Sukarno, Orang Kiri, Revolusi dan G30S 1965 karya Onghokham yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Sukarno dan Modernisme Islam karya Muhammad Ridwan Lubis yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Sukarno Muda karya Peter Kasenda yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Hari-hari Terakhir Orde Baru karya Peter Kasenda yang bisa didapatkan di TokopediaBukalapak, dan Shopee.

Penghancuran PKI karya Olle Tornquis yang bisa didapatkan di Tokopedia, dan Shopee.

Musim Menjagal karya Geoffrey Robinson yang bisa didapatkan di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee dan www.komunitasbambu.com atau telpon ke 081385430505

Buku terkait dengan artikel.

LEAVE A REPLY